Sekitar 20 Siswa SMP Drop Out untuk Cari Nafkah

22

PACITAN – Meski tidak banyak tapi masih ada peserta didik di Pacitan yang drop out (DO). Itu bisa dilihat dari pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) SMP 2019 ini. Ada beberapa siswa yang mundur sebelum bertempur. Bahkan, sebagian di antaranya mengundurkan diri sejak kelas VIII.

Dinas Pendidikan (Dindik) Pacitan mencatat dari total 5.614 peserta didik kelas IX, sekitar 20 siswa di antaranya DO dari sekolah mereka. ‘’Ada beberapa faktor yang memengaruhi anak mengundurkan diri dari sekolah, salah satunya ekonomi,’’ kata Kepala Dindik Pacitan Daryono kemarin (26/4).

Menurut Daryono sebagian besar siswa yang mengundurkan diri tersebut lantaran merantau ke luar daerah untuk bekerja. Bahkan, ke luar Jawa seperti Batam hingga Kalimantan ikut orang tua mencari nafkah. ‘’Kami berusaha meminta kepala sekolah untuk menghubungi yang bersangkutan. Namun beberapa siswa pindah ke luar daerah,’’ ujarnya.

Biasanya mereka bakal pulang kampung beberapa tahun kemudian. Bahkan, tak sedikit yang ikut kejar paket lantaran butuh ijazah untuk melanjutkan sekolah atau syarat melamar pekerjaan yang lebih baik. Itu cara terakhir untuk menekan angka putus sekolah. ‘’Semua kepala sekolah SMP kami minta mengawasi siswanya melanjutkan ke mana. Yang tak melanjutkan akan kami cari. Kami tampung dan fasilitasi. Bisa kami masukkan ke sekolah kesetaraan,’’ tuturnya.

Selain DO, 13 siswa lainnya juga tak ikut UNBK. Mayoritas berhalangan hadir lantaran sakit. Mereka dijadwalkan bakal mengikuti ujian susulan pekan depan. Jadwal ujiannya dua hari. Dua mata pelajaran sehari. Daryono berharap 13 siswa tersebut dapat mengikuti. ‘’Hari ini (kemarin) kemungkinan ke-13 siswa itu masuk dan kami data untuk ikut ujian susulan,’’ papar Daryono

Terkait siswa yang tengah berhadapan dengan hukum. Dia berharap status tersebut tak menggangu mereka ketika mengerjakan soal UNBK. Sebab, pendidikan mereka lebih diutamakan. Buktinya, mereka leluasa mengikuti ujian tanpa pengawasan khusus dari pihak berwajib. ‘’Tetap ikut ujian. Jika perlu keterangan ke polisi kami siap membantu,’’ terangnya sembari menyebut bakal menekan kenalakan pelajar lewat pemahaman dan konseling.

Terkait ketersediaan sarana prasarana (sarpras). Daryono menyebut beberapa sekolah masih numpang. Tahun depan pihaknya menargetkan 70 SMP bisa menggelar UNBK mandiri. Pihaknya bakal mengajukan anggaran Rp 2,3 miliar untuk pengadaan sarpras. ‘’Target tahun ini seluruhnya UNBK. Tahun depan seluruhnya mandiri,’’ tegasnya. (gen/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here