Sejarawan Muda Pacitan Seminarkan Wayang Beber di Malaysia

20
PENGALAMAN: Topan Permadi di sela seminar internasional di Malaysia tahun lalu.

Pesatnya perkembangan teknologi membuat generasi muda masuk arus globalisasi. Hingga banyak yang meninggalkan budaya dan tradisi. Topan Bagus Permadi sebaliknya. Rasa penasaran membuatnya tergelitik mengungkap sejarah dan budaya Pacitan.

—————

SUGENG DWI, Pacitan

KISAH Panji Asmorobangun menggapai cinta Dewi Sekartaji dibaca Topan Bagus Permadi. Cerita romantis yang diadaptasi dari budaya Pacitan itu menggelitik warga lingkungan Ngampel, Ploso, Pacitan ini. Meneliti cerita tersebut jadi pintu gerbang membuka tabir sejarah Pacitan. ‘’Dari sana saya tertarik meneliti kisah dari wayang beber itu untuk saya seminarkan di Malaysia,’’ ujar Topan, peneliti sejarah Pacitan.

Sebelum meneliti, poster call paper seminar internasional di Universitas Pendidikan Sultan Idris Malaysia, menggugah semangat Topan mengulik budaya Pacitan. Mahasiswa jurusan seni rupa semester akhir Unesa itu tertantang membongkar budaya Pacitan yang kerap didengarnya saat kecil. Dia hanya punya waktu enam bulan sebelum seminar. ‘’Sempat kesulitan saat awal penelitian, karena wayang beber punya pakem dan tradisi yang kental. Untungnya ada wayang beber sabendino (WBS), salah satu rekontruski dari yang original dan saya penelitian di sana,’’ ungkapnnya.

Selain waktu yang mepet, sejarawan muda itu juga sempat bingungdalam pendanaan. Bermodal nekat, sponsor dari kampus hanya cukup menutupi biaya tiket dan pendaftaran seminar. Padahal, pemuda kelahiran 30 April 1997 itu harus tinggal di negeri jiran sepekan. ‘’Akhirnya saya nyambi jadi tim survei di Dinas Pendidikan Surabaya, untuk menambah uang makan dan menginap,’’ kenangnya sembari menyebut berangkat bersama seorang satu rekan mahasiswa.

Tak sia-sia. Kenekatan Topan sukses membuat peserta seminar terkesima. Waktu 20 menit tak cukup hingga banyak audiens penasaran dan mengajak Topan berdikusi lagi. Agustus mendang, dua rekannya asal Malaysia bakal terbang ke Pacitan untuk menengok budaya tersebut. ‘’Cuman saya dan teman saya yang mahasiswa. Peserta lainnya dosen, mereka gak percaya,’’ tutur putra pasangan Sukaryatin dan Djoko Susilo itu

Meski tak masuk nominasi, seminar di negeri orang jadi pengalaman berarti. Plus bertambah relasi.  Belum lagi kebanggaan mengenalkan budaya Pacitan di negeri orang. ‘’Pelajaran dari sana (Malaysia), mereka juga mulai kehilangan tradisi. Sampai-sampai ada peserta yang meneliti dan menyeminarkan cara memegang wayang,’’ ungkapnya.

Beberapa waktu lalu Topan juga meneliti kethek ogleng yang masih terkait cerita panji di Desa Tokawi, Nawangan. Dia menyayangkan minimnya dokumentasi ke sesepuh seni tari pertunjukan tersebut. Dia pun berencana membuat buku dokumentasi dan literasi budaya Pacitan agar generasi ke depan paham budaya lokal. ‘’Cerita Panji Asmorobangun dan Dewi Sekartaji empat tradisi yang terikat, wayang beber, kethek ogleng, ceprotan dan salawatan panji,’’ pungkasnya.*** (sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here