Sedimentasi Sungai Akut, Banjir Tempursari Tak Tersolusi

661

MADIUN – Seharian kemarin (5/3) warga Dusun Glonggong, Tempursari, Wungu, berjibaku dengan air. Kali Piring mendadak meluap hingga banjir menggenangi tujuh RT di dusun setempat sekitar pukul 15.00. Padahal, permukiman itu sudah dikepung air 16 jam sebelumnya. Sungai yang berhulu di wilayah Dungus itu meluber setelah hujan lebat, Senin malam (4/3). ‘’Perlahan surut subuh sekitar pukul 04.00 tadi (kemarin, Red),’’ kata Harsono, warga setempat.

Air mendadak muncul lewat parit meski sore itu hujan tidak turun. Kali pertama muncul di RT 17 RW 04 hingga meluber ke RT 18, 19, 20, 21, 22, dan 23. Kedalamannya mencapai 30 sentimeter. Meski tidak sampai membuat mogok, pengendara sepeda motor yang nekat kesulitan menjaga keseimbangan. Genangan yang menjadi hiburan gratis bagi anak-anak itu mulai surut pukul 16.30. ‘’Kalau tidak hujan, biasanya dua jam sudah surut,’’ ujarnya kepada Radar Mejayan.

Menurut Harsono, banjir dadakan itu akibat air kiriman dari wilayah Dungus. Wilayah hulu kemungkinan hujan deras. Problem tersebut menahun dirasakan warga setiap kali musim penghujan. Selama tiga bulan sejak Januari 2019 sudah empat kali terendam banjir. Yang terparah Senin malam karena air masuk rumah. Kedalamannya berkisar 30–50 sentimeter. ‘’Kalau di luar rumah sekitar satu meter,’’ ungkapnya.

Yuwana Dwi Atmojo, salah seorang personel Taruna Siaga Bencana (Tagana) Desa Tempursari, mengklaim sedikitnya 300 rumah terendam dengan kedalaman bervariasi. Termasuk Perumahan Bumi Tegalrejo. Sejumlah warga terpaksa diungsikan ke rumah warga beda RT yang tidak terdampak banjir. ‘’Terutama warga yang model rumahnya masih lama dengan halaman belum ditinggikan,’’ ucapnya.

Menurut Yuwana, problem banjir di desanya disebabkan sejumlah hal. Paling krusial sedimentasi Kali Piring yang cukup parah. Sehingga daya tampung tidak maksimal. Karakteristik sungai yang berkelak-kelok dan keberadaan rumpun bambu di tepi sungai turut memengaruhi kelancaran aliran. Belakangan, diketahui arus sungai Senin malam tidak lancar karena ada patahan bambu tersangkut di bambu lain. ‘’Sehingga luapan masuk permukiman cukup parah,’’ terangnya.

Alasan lainnya, aliran Kali Piring di desanya merupakan muara tiga hingga empat sungai besar dari wilayah Dungus. Banjir tidak terhindarkan bila daerah hulu sama-sama hujan deras. Meski cuaca di desanya sedang cerah. ‘’Karena semua berkumpul di sini,’’ ujarnya.

Luapan Kali Piring merembet hingga Desa Sendangrejo, Madiun. Kemarin pagi air masih menutupi sejumlah ruas jalan alternatif penghubung Kota Madiun–Kabupaten Madiun, desa setempat. Genangan sedalam 50 sentimeter itu mengganggu perjalanan pengendara bermotor. Selain mogok, tidak sedikit yang memilih putar balik. (cor/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here