Magetan

Sedimentasi Embung Klumpit Setebal 3 Meter

Ubah Normalisasi dari Pengerukan ke Perluasan Daya Tampung

MAGETAN, Radar Magetan – Debit air Embung Klumpit di Desa Banyudono, Kecamatan Ngariboyo, tak kunjung meningkat. Cekungan penampung air yang mempunyai kedalaman enam meter tersebut sudah lama kering. Sehingga, gagal fungsi mengaliri lahan pertanian warga Desa Banyudono dan Banjarpanjang selama musim kemarau.

Kabid Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Magetan Yuli Karyawan Iswahjudi tidak menampik kondisi Embung Klumpit memprihatinkan saat ini. Bahkan, dia menyebut tingkat kekeringan yang terjadi di embung itu sekarang paling parah sejak dibangun 19 tahun lalu. ‘’Kondisinya kering kerontang. Begitu juga dengan sungainya,’’ kata Yuli Rabu (13/11).

Kendati demikian, dia memastikan keringnya debit air embung itu tidak sampai memengaruhi konstruksi dinding penampung. Pihaknya juga menyatakan bahwa embung tersebut bukan merupakan tempat budi daya ikan. ‘’Airnya murni digunakan untuk irigasi saja,’’ terangnya.

Yuli mengaku pihaknya sudah menormalisasi embung tersebut. Banyak endapan pasir yang diangkat. Kini proses itu sudah selesai. Tinggal menyisakan perapian bekas pengerukan dasar embung. ‘’Sudah lebih dari sebulan lalu kami normalisasi, karena sedimentasi di embung itu cukup parah,’’ bebernya.

Dalam perjalanannya, Yuli menjelaskan bahwa proses normalisasi yang dilakukan berubah arah. Dari sebelumnya yang sebatas pengerukan sedimen tanah, kini berubah menjadi perluasan kapasitas embung. ‘’Perencanaan tetap berjalan, tapi ada sedikit perubahan dari konsep awal,’’ ujarnya.

Menurutnya, perluasan embung merupakan usulan dari warga Desa Banyudono. Karena daya tampung embung sekitar 108.800 meter kubik itu dianggap kurang memadai untuk persediaan irigasi pertanian. ‘’Di situ sedimentasi tanahnya mencapai 2–3 meter. Sehingga perlu dinormalisasi dulu sementara,’’ jelasnya. (fat/c1/her)

Dropping Air Bersih Distop

BANTUAN TERAKHIR: Dropping air bersih mulai dihentikan oleh BPBD terhitung sejak Selasa lalu (12/11).

BANTUAN air bersih ke warga dari pemkab resmi berakhir menyusul datangnya musim penghujan. Keputusan itu ditetapkan sejak Selasa lalu (12/11). ‘’Sudah dua minggu ini terpantau hujan mulai turun di wilayah Magetan,’’ kata Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Magetan Fery Yoga Saputra Rabu (13/11).

Selama musim kemarau, krisis air bersih berdampak pada 12.023 jiwa. Warga paling parah terdampak berada di Dusun Sumbermeneng dan Desa Penthuk, Desa Kuwon, Kecamatan Karas. Tercatat ada 1.912 jiwa yang mengalami krisis air bersih. ‘’Kalau secara total ada 11 desa terdampak (krisis air bersih) di tiga kecamatan, meliputi Karas, Lembeyan, dan Parang,’’ sebut Fery.

Sampai Senin lalu (11/11), BPBD telah menyalurkan 1.650 rit air bersih atau sekitar 10 juta liter. Proses dropping air bersih tersebut dibantu oleh dana CSR dan pihak swasta. Karena anggaran bantuan air bersih yang bersumber dari APBD terbatas. ‘’Anggarannya membengkak dan memang cukup sampai tanggal 11 November saja,’’ ungkapnya.

Pembengkakan anggaran itu salah satu sumbernya untuk keperluan biaya BBM. Selama musim kemarau, proses distribusi air bersih dilakukan hampir merata di sejumlah wilayah terdampak kekeringan. Salah satunya di Desa Sayutan, Kecamatan Parang. (fat/c1/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close