Sebulan, 78 kasus DBD, 2 Meninggal

98

MAGETAN – Infeksi virus dengue (IVD) makin merebak di Magetan. Puluhan warga tumbang sehingga terpaksa menjalani perawatan di rumah sakit karena gigitan nyamuk Aedes Aegypti tersebut.

Berdasar data dinas kesehatan (dinkes) setempat, tercatat sejak Januari 2019 sampai dengan saat ini sudah ada sekitar 78 kasus demam berdarah dengue (DBD) yang teridentifikasi. Bahkan, dua penderita di antaranya meninggal dunia karena mengalami dengue shock syndrome (DSS). ‘’Korban meninggal adalah anak-anak,’’ kata Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Dinkes Magetan, Didik Setyo Margono kemarin (5/2).

Adapun dua korban meninggal itu disebabkan karena saat dibawa ke rumah sakit dalam kondisi shock. Gejalanya, seperti kondisi akral atau ujung jari kaki dan tangan dingin. Selain itu, kulit pucat, dingin, dan lembap, terutama pada jari tangan, kaki, serta hidung.

Didik menyatakan, saat pasien shock, masih terjadi golden period. Yakni, masa yang seharusnya segera mendapat pertolongan seperti pemberian oksigen dan cairan infus untuk melancarkan aliran darah. ’’Kalau terlambat, sulit ditangani. Apalagi daya tahan tiap pasien berbeda. Ada yang trombosit lebih tinggi, tapi kondisi umumnya buruk atau sebaliknya,’’ tutur dia.

Kendati kasus DBD menunjukkan tren naik, tapi Bupati Magetan Suprawoto belum menetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB). Menurutnya, perubahan status KLB itu tidak harus. Sebaliknya, dia beranggapan penanganan lebih penting daripada hanya sekadar penetapan status KLB. ‘’Kalau kasusnya banyak ya kita harus segera melakukan gerakan lebih cepat dibanding saat kasusnya sedikit,’’ katanya.

Pria yang akrab disapa Kang Woto itu selanjutnya mengimbau kepada masyarakat untuk waspada DBD. Seperti dengan menggerakkan kegiatan pemberantasan saran nyamuk (PSN). ‘’Penetapan KLB itu ada syaratnya,’’ ungkap mantan sekjek kementerian kominfo tersebut.

Dia juga telah memerintahkan dinkes untuk meningkatkan aktivitas pemfoggingan di beberapa lingkungan endemis DBD. Kendati cara itu dinilai tidak efektif karena hanya membunuh nyamuk dewasa. ‘’Pemfoggingan akan dilakukan secara bergantian untuk mengurangi angka DBD,’’ kata Kang Woto. (mgc/her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here