Seberapa Besar Penghasilan, Tak Bisa Menggantikan Ketenangan Batin Haris Ma’mun

85

Haris Ma’mun tergoda urusan duniawi, hingga enggan melanjutkan mengelola Ponpes Ma’hadul Muta’allimin, milik leluhurnya. Baginya, hidup tidak akan cukup dengan syiar agama Islam. Namun, paradigmanya dulu itu keliru besar.

—————————

DENI KURNIAWAN, Ngawi

PONDOK Pesantren (Ponpes) Ma’hadul Muta’allimin yang dipimpin Haris Ma’mun cukup sederhana. Dindingnya berwarna putih berkombinasi oranye dengan keramik putih. Namun, suasana itu membuat puluhan santri mukim tinggal dengan nyaman dan tenang. Namun, siapa sangka sosok Haris yang ada di balik kesederhanaan pondok di Dusun Katerban, Desa Sekaralas, Widodaren, itu awalnya tidak sudi mengelola peninggalan leluhurnya. ‘’Dulu saya ini lebih mengejar keduniawian,’’ kata Gus Haris.

Pria 47 tahun itu adalah generasi ketiga pengelola ponpes sejak dibangun 87 tahun silam. Yang pertama kakeknya, lalu diturunkan ke bapaknya dan dilanjutkan ibunya. Gus Haris kecil pun lekat dengan dunia pesantren. Kesehariannya mengaji Alquran dan belajar ilmu agama Islam. Akan tetapi, jalan pikirannya berbeda jauh dengan sang orang tua yang memilih mencurahkan hidup untuk mengurus pondok. Baginya, kebutuhan hidup tidak bisa dicukupi tanpa bekerja dan memperoleh penghasilan. ‘’Paradigma itu muncul karena saya sudah bekerja di saat kuliah di IAIN Malang pada 1991,’’ ungkapnya.

Godaan duniawi kian tidak terbendung setelah lulus kuliah. Gus Haris bergelimang harta. Dia memperoleh penghasilan tinggi kala bekerja di beberapa perusahaan di Jakarta dan Sumatera. Bahkan untuk perusahaan yang disebutkan terakhir, jabatannya adalah general manager (GM). Tidak puas dengan karir, suami Ning Iis itu menjajal dunia bisnis dengan hasil yang terbilang manis. Namun, capaian tersebut dirasa belum ada apa-apanya. ‘’Rasanya, semakin mengejar, semakin kurang,’’ katanya.

Suatu ketika di 2002, Ning Iis curhat ke suaminya kalau gelisah dan khawatir dengan kondisi keluarga di Ngawi. Perasaan tersebut timbul lantaran Gus Haris terlanjur larut dengan dunia kerja dan bisnisnya. Dia memutuskan pulang kampung. Namun, tujuannya untuk tetap melanjutkan usaha, bukan mengganti mengelola pondok yang diurus ibunya. ‘’Saya tidak mau untuk meneruskan pondok. Saat itu belum ada kepikiran ke sana,’’ bebernya.

Walhasil, pondok peninggalan kakeknya menjadi terbengkalai. Mati suri karena kelewat minim kegiatan santri. Hingga suatu malam, Gus Haris bermimpi berjabat tangan dengan kiai Ponpes Gontor Ngawi. ‘’Saya menyadari mimpi itu petunjuk meneruskan perjuangan kakek, bapak dan ibu,’’ katanya.

Tekat menghidupkan kembali pondok menemui banyak rintangan. Sejumlah pengasuh menolak ajakan kembali karena telah menjadi pengurus di pondok lain. Problem tersebut memunculkan inisiatif untuk mengumpulkan para alumnus pondok. Cara tersebut efektif. Aktivitas pesantren kembali bergeliat pada 2007. ‘’Saya fokuskan dulu pendidikan formal,’’ ujar Gus Haris.

Pendidikan formal diprioritaskan lantaran banyak orang tua yang tidak ingin anaknya sekadar memondok. Strategi tersebut jitu. Santri putri mulai masuk pada 2014 dan tiga tahun berselang giliran santri putra. ‘’Sekarang ada 60 santri mukim putri dan 12 putra,’’ ungkapnya.

Gus Haris menyadari paradigmanya dulu keliru. Perkara duniawi semestinya tidak perlu dirisaukan. Sebab, memperjuangkan agama Islam memberi lebih dari sekadar materi. Yakni, ketenangan yang sebelumnya tidak dirasakan ketika memikirkan kerja dan bisnis. ‘’Penghasilan memang lebih banyak, tapi ketenangan batin adalah segalanya,’’ pungkasnya. ***(cor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here