Sebelas Tahun Loper Koran Cukupi Kebutuhan

10
PEKERJA KERAS: Menjelang siang, Mulyono biasa menjajakan koran di Jalan Bhayangkara dan KBP Duryat.

Sebelas tahun Mulyono menjajakan koran. Sehari-hari menyusuri jalanan antarkecamatan di kabupaten ini dengan sepeda tua kesayangannya.

===============

DILA RAHMATIKA, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo

PENAMPILANNYA unik. Mengenakan helm merah, Mulyono mengayuh sepedanya yang sudah tua dan berkarat. Di bagian setang, berkibar bendera merah putih. Di boncengan belakang, menggantung keranjang kusam bertuliskan Jawa Pos. Kantong kanan berisikan setumpuk koran dan majalah. Kantong kiri berisikan barang rongsokan.

Saban hari, dia terbiasa memarkirkan sepedanya di penggal Jalan Bhayangkara. Lalu berjalan kaki, menawarkan koran di sekitaran Polres Ponorogo. Selain koran, Mulyono juga membawa majalah anak hingga otomotif. Ditawarkan kepada pembaca sesuai usia. Juga, ragam majalah keagamaan. ‘’Kalau yang dua ini, biasanya laku di pengadilan,’’ terangnya menunjuk majalah keagamaan.

Loper asal Bajang, Mlarak, ini telah menjajakan koran sejak sebelas tahun terakhir. Sebelum pulang ke kampung halaman, dia sempat meloper di Kediri. ‘’Tas keranjang ini saya dapatkan dari Kediri saat baru berdiri,’’ kenang pria berkacamata ini.

Sepeda untanya didapatkan dari pasar loak. Dibelinya dari hasil menyisihkan sebagian keuntungan menjajakan koran selama berbulan-bulan. Tiga tahun silam, sepeda tua itu ditebusnya Rp 500 ribu. ‘’Saya namai Mercedez,’’ katanya sembari menepuk sadel sepedanya.

Nasihat seorang kiai membuat pria 56 tahun ini bertahan menjajakan koran sampai sekarang. Nasihat itu didapatkannya ketika masih meloper di Kediri. ‘’Ono Mbah Kiai ngendikan, dunyo rung dilempit (kiamat, Red) sik enek berita. Tetep dodolo koran, iso nyukupi kebutuhan,’’ ucapnya menirukan nasihat yang menjadi penyemangat hidupnya tersebut. ***(fin/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here