SD Negeri Ini Cuma Punya 15 Murid

311

NGAWI Ini potret pendidikan di kawasan Ngawi pinggiran. Satu sekolah dasar negeri hanya memiliki 15 anak didik, empat guru PNS, satu guru tidak tetap (GTT), dan seorang kepala sekolah berstatus pelaksana harian (Plh). Adalah SDN Sambirejo IV di Desa Sambirejo, Mantingan, yang memiliki potret demikian itu. ‘’Sepi kelasnya,’’ kata Alifah, siswa kelas VI, Senin (3/9).

Senin pekan pertama bulan ini, Alifah hanya bersama Hamzah di ruang kelas. Kegiatan belajar-mengajar (KBM) semakin khusyuk ketimbang hari biasanya. Ada empat pelajar sejatinya. Namun, dua sebaya Alifah dan Hamzah absen kemarin. Fokus benar kedua bocah berseragam putih-merah tanpa dasi itu mengerjakan tugas dari guru. ‘’Satu tidak masuk karena sakit. Satunya lagi izin pergi ke rumah neneknya,’’ jelas Alifah disambut anggukan dari Hamzah.

Ismini, guru kelas VI SDN Sambirejo IV, tidak lagi kaget dengan kondisi tersebut. Dia sudah terbiasa mengajar di ruang kelas yang kelewat tenang. Begitu sedikit anak didik yang diajar: empat siswa. Kondisi serupa tertampang di ruangan adik kelas Alifah. Total murid di SDN tersebut tembus angka 15. ‘’Ada tambahan satu murid kelas I dari SDN Sambirejo I. Maunya belajar di sini karena ada kakaknya,’’ papar Ismini.

Ketika ngaso, pelataran SDN Sambirejo IV yang separo paving itu tidak begitu ramai lumrahnya sekolah pada umumnya. Tidak begitu nyaring gelak tawa dan teriak kegirangan para siswa. Kondisi yang demikian berbanding lurus dengan suasana ruang guru. Bagaimana tidak, di SDN Sambirejo IV hanya ada empat guru. ‘’Ada lima sebenarnya. Satu guru agama, tapi belum PNS. Kalau kepala sekolahnya sama dengan SDN Sambirejo 1,’’ urai Ismini.

Sungguh ironi kondisi SDN yang berdiri sejak 1983 di Dusun Dadung, Desa Sambirejo, Mantingan, itu. Ismini yang sudah mengajar sejak 1985 itu tahu betul seperti apa perkembangan sekolah dari waktu ke waktu. Diungkapkannya, SDN Sambirejo IV mulai minim murid sejak tahun ajaran 2005/2006. Belasan tahun sudah SDN tersebut memiliki murid berjumlah kurang dari 60. ‘’Sempat naik pada tahun ajaran 2006/2007, total murid ada 61. Selalu di bawah 60 siswa di sini,’’ ungkapnya sambil menunjuk papan catatan jumlah murid sekolah.

Ismini mengungkapkan, tahun ajaran 2018/2019 SDN Sambirejo IV sudah tidak membuka pendaftaran siswa baru. Artinya, tahun ini sekolah tersebut hanya dihuni pelajar kelas II sampai kelas VI. Kondisi seperti itu tak pelak membuat pihak sekolah melakukan rekayasa KBM. Hanya ada tiga kelas KBM berlangsung saban harinya alias dilakukan penggabungan. Satu kelas untuk pelajar kelas II dan III. Kelas IV dan V digabung dalam satu ruang. Sementara untuk kelas VI dipisahkan dalam satu ruangan sendiri. ‘’Mau bagaimana lagi, wong kondisinya seperti ini,’’ ucap Ismini.

Guru yang sebentar lagi pensiun itu tidak menampik bahwa kondisi tersebut menimbulkan atmosfer sekolah yang kurang nyaman. Tidak hanya murid yang nasibnya terkatung-katung. Empat guru PNS dan satu guru tidak tetap pun begitu. Dalam hal ini terkatung-katung kualitas pendidikannya. Ismini dan sejawatnya tidak tega hati meninggalkan belasan generasi penerus bangsa di SDN Sambirejo IV. Mereka cukup melaksanakan apa yang menjadi tanggung jawabnya sebagai pendidik. ‘’Memang ada kabar mau di-regrouping dengan SDN Sambirejo I, katanya masih nunggu SK (surat keputusan, Red),’’ ujarnya.

Keempat guru PNS di SDN Sambirejo IV mengharapkan kejelasan nasib sekolahnya. Sebab, belasan tahun sudah bangku SDN tersebut banyak yang kosong. Akibatnya, beragam dampak dirasakan warga sekolah. Mulai kurang maksimalnya kualitas pendidikan sampai ribetnya mengatur jam ngajar. ‘’Semampunya kami laksanakan tugas kami mengajar. Tapi, kami berharap segera ada langkah yang diambil terkait kondisi sekolah yang seperti ini,’’ ucap Ismini.

Kepala SDN Sambirejo I sekaligus Plh Kepala SDN Sambirejo IV Mucharam mangamini kabar penggabungan dua sekolah tersebut. Mucharam mengatakan pengajuan regrouping sudah dilakukan sejak akhir 2017 lalu. Namun, sampai sekarang belum ada langkah yang mengarah ke penggabungan tersebut. ‘’Kendalanya apa saya kurang tahu. Yang jelas, kami sudah mengajukannya ke dinas (Dindik Ngawi, Red). Sudah dirapatkan dengan pihak desa mapun komite sekolah juga,’’ ungkapnya. (mg8/c1/rif)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here