Sawah Menyusut, Kota Bergantung Pasokan Beras Daerah Tetangga

41

MADIUN – Ini rada gawat! Perbandingan stok dengan tingkat konsumsi beras warga Kota Madiun jomplang. Lahan pertanian yang makin menciut jadi penyebab. Akibatnya pemkot sangat bergantung pasokan beras dari Kabupaten Madiun.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Madiun Muntoro Danardono menyebutkan, dalam setahun kebutuhan konsumsi beras masyarakat di Kota Madiun mencapai 13.800 ton. Sementara, beras hasil produksi pertanian yang mampu disediakan oleh pemkot hanya sekitar 11.000 ton. Dengan demikian, terjadi deviasi sekitar 2.800 ton konsumsi beras masyarakat dalam satu tahun kalender. ’’Jadi, kekurangannya itu (bergantung) pasokan dari tetangga,’’ katanya kemarin (5/12).

Saat ini, luas lahan sawah di Kota Madiun ada 892 hektare. Semuanya merupakan lahan sawah dengan irigasi. Luas lahan sawah itu terus mengalami penyusutan sejak 2016. Saat itu, luas lahan sawah mencapai sekitar 926 hektare. Pada 2017, luasannya turun menjadi hanya 923 hektare. ’’Rata-rata ada pengurangan lahan sekitar 2 persen setiap tahunnya,’’ ungkap Muntoro.

Dijelaskan, makin menyusutnya lahan pertanian itu dampak dari alih fungsi lahan. Kondisi itu selanjutnya berdampak pada luas panen padi sawah. Pada tahun lalu, luas panen padi hanya tinggal 793 hektare. Menurun sekitar 69 persen dibanding luas panen pada pada 2016 lalu.

Menyikapi persoalan itu, Muntoro mengaku jika program alih fungsi lahan sudah diatur sedemikian rupa. Bahkan, regulasinya berupa peraturan daerah (perda) juga telah diterbitkan. ‘’Tapi, ini tinggal menyangkut komitmen dari beberapa pihak. Karena sejak awal memang sudah ditentukan mana saja zona yang bisa dimanfaatkan untuk alih fungsi lahan maupun zona pertanian berkelanjutan,’’ terangnya.

Masalah minus kebutuhan beras masyarakat tersebut diperparah dengan makin anjloknya produksi hasil peternakan daerah. Produksi telur ayam misalnya. Menurut Muntoro, banyak peternak ayam lokal yang usahanya tergusur keadaan lingkungan. Sebab, usaha itu sangat bersinggungan dengan masyarakat setempat lantaran dianggap mencemari lingkungan (polusi). ’’Jadi, dari waktu ke waktu (jumlah) peternak ayam di Kota Madiun terus mengalami penurunan,’’ ujarnya.

Saat ini, populasi ternak di Kota Madiun hanya 65.000 ekor. Terdiri dari ternak ayam kampung, petelur dan pedaging. Sedangkan, sesuai hasil pencatatan jumlah konsumsi daging ayam mencapai 240 ton per minggu. Tapi, ketersediaan stok di pasar hanya 234 ton per minggu. ’’Meski begitu, kami tetap berupaya agar para peternak itu tetap eksis. Walaupun tidak berupa kandang besar, tapi minimal dari rumah ke rumah itu mampu untuk mencukupi kebutuhan sendiri,’’ terang Muntoro.

Kondisi yang sama terjadi untuk ketersediaan komoditas daging sapi di pasar tradisional Kota Madiun. Dimana, jumlah kebutuhan daging sapi warga sesuai catatan dinas pertanian dan ketahanan pangan mencapai 1 ton per hari. Sedangkan, jumlah pasokan hanya sekitar 0,3 ton per hari.

Kendati demikian, pihak Bulog menjamin ketersediaan stok beras dan komoditi lainnya aman sampai pergantian tahun. Seperti stok beras di empat gudang Bulog saat ini mencapai 11.000 ton. Gula pasir 30.000 ton, tepung terigu 3.500 kilogram (kg), dan minyak goreng 4.500 liter. ’’Memang menjelang akhir tahun ada tren kecenderungan harga komoditi pangan meningkat. Tapi, kami menjamin stok ketersediaan pangan berupa beras aman hingga beberapa bulan ke depan,’’ kata Wakil Kepala Bulog Sub Divre Madiun, Andromeda kemarin saat menggelar operasi pasar (OP) di Pasar Jaya.

Sementara itu, terpantau inflasi Kota Madiun sepanjang 2018 masih berada pada jalurnya. Sejak Januari hingga November, inflasi tergolong aman di level 2,28 persen. Secara year on year (YoY), inflasi juga masih sesuai sasaran Bank Indonesia, yakni 3,10 persen.

Namun, jika dilihat secara bulanan, inflasi Kota Madiun pada November tahun ini mengalami peningkatan apabila dibandingkan dengan inflasi pada Oktober. Secara month to month (MtM), pada November inflasi tercatat 0,34 persen. Naik sekitar 0,16 persen daripada inflasi Oktober yang hanya sebesar 0,18 persen. ‘’Tapi, ini sudah paling tinggi. Bahkan, di atas angka Jatim. Kalau tidak bisa mengendalikan inflasi pada Desember, ya nanti (inflasi) akan tinggi lagi seperti tahun lalu,’’ Kepala BPS Kota Madiun Firman Bastian. (her/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here