Madiun

Satukan Masjid dan Musala dalam Sebuah Forum Komunikasi

MADIUN – Bagi KH M. Iskandar, Masjid Al-Mujahidin Perumnas Manisrejo II seolah sudah menjadi rumah keduanya. Maklum, puluhan tahun dia menjadi takmir masjid tersebut. Selama itu pula, lahir pemikiran cerdasnya demi kemaslahatan umat.

Mengenakan sarung, KH M. Iskandar sore itu tampak keluar dari rumahnya sembari menenteng dua kantong kresek sampah. Setelah membuangnya ke sebuah tong sampah di salah satu sudut halaman rumahnya di Jalan Tumpak Manis I Perumnas Manisrejo II, dia bergegas kembali masuk rumah.

Tidak lama berselang datang seorang pria. Beberapa saat setelah memasuki ruang tamu rumahnya, pria itu mencium tangan Iskandar. ‘’Itu tadi anak saya yang nomor dua, baru pulang kerja,’’ kata Iskandar.

Di kalangan pemuka agama Islam Kota Madiun, nama Iskandar cukup dikenal. Di jajaran pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat, dia tercatat sebagai ketua komisi fatwa dan pengkajian. Juga wakil ketua rois syuriah Nahdlatul Ulama (NU).

Di luar itu, selama tiga tahun terakhir Iskandar dipercaya sebagai ketua Badan Wakaf Indonesia Kota Madiun. ‘’Tahun 2017 lalu terpilih jadi wakil ketua II Baznas Kota Madiun,’’ ujar pria yang sempat 20 tahun menjadi ketua takmir Masjid Al-Mujahidin Perumnas Manisrejo II ini.

Iskandar punya cara tersendiri dalam melakukan pembinaan umat melalui masjid. Salah satunya membentuk forum komunikasi antarmasjid dan musala di kompleks Perumnas Manisrejo II. Tujuannya untuk mencegah adanya persaingan tidak sehat antarrumah ibadah tersebut.

Kegiatan yang dilakukan untuk merekatkan kebersamaan  jamaah di kompleks perumahan itu di antaranya pengajian dan yasinan rutin saban malam Jumat Wage. Pengajian yang mendatangkan penceramah dari luar daerah secara bergantian. ‘’Pengajian kami berganti-ganti tempat. Menjelang Ramadan ekmarin, Binroh (bimbingan rohani, Red) Polres Ponorogo kami undang. Ha-hal seperti ini sudah berjalan hampir 14 tahun,’’ ungkapnya.

Iskandar memiliki keinginan besar untuk menyatukan ratusan masjid di Kota Madiun demi kemaslahatan umat melalui pengelolaan kotak amal. Semisal, membangun semacam minimarket yang bisa dirasakan manfaatnya untuk masyarakat. ‘’Bayangkan kalau ada 200 masjid, masing-masing Rp 10 juta, sudah Rp 2 miliar untuk modal,’’ ujarnya. ***(isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close