Sate Tangkar Hasil Olahan Waromlah Tak Pernah Sepi Pembeli

2837
RAMAI: Sate Mbak Rum menjadi jujukan nongkrong anak muda.

Banyak varian sate yang dijual di pasaran. Namun, menu bikinan Waromlah ini terbilang unik. Perempuan itu menjual sate berbahan seluruh bagian ayam. Meski tempat makannya tersembunyi, pengunjung selalu ramai.

————

NUR WACHID, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

KEPULAN asap langsung menyeruak saat Waromlah membakar tusukan sate daging, kulit, ceker, dan kepala ayam di atas tungku. Tangan Mbak Rum- panggilan akrab Waromlah- tak henti menggerakkan kipas ke arah tungku. Bersamaan bara api semakin menyala, asap pun semakin mengepul disertai aroma khas yang tercium hingga mulut gang.

Ya, Mbak Rum menjajakan satenya di teras rumah yang berada di gang kecil. Dari pertigaan Pasar Telon Jalan Kemuning ke arah selatan. Sekitar 300 meter ada papan seukuran 30×10 sentimeter bertuliskan ’’Sate Mbak Rum’’.

Di pintu masuk gang itu terdapat semacam gapura berbahan besi melengkung. Dari situ masuk ke timur hingga mentok. ‘’Buka jam 17.00 sampai 00.00,’’ kata Mbak Rum.

Meski lokasinya nylepit, warung sate Mbak Rum tidak pernah sepi. Dalam sehari, perempuan itu menyiapkan sedikitnya 1.500 tusuk untuk pelanggannya. Harganya terbilang bersahabat. Hanya Rp 12 ribu untuk 10 tusuk sate plus lontong. ‘’Kalau ceker dan kepala beda harganya,’’ lanjutnya.

Warung sate Mbak Rum memang tergolong unik lantaran menjual seluruh bagian ayam atau biasa disebut sate tangkar. Paling laris sate ceker dan kepala ayam. Saking larisnya, pelanggan harus memesan dulu sejak pagi atau siang.

Selain ceker dan kepala, Mbak Rum juga menyediakan berbagai sate daging, hati, usus, dan kulit ayam. ‘’Yang paling laris sate ceker dan kepala,’’ sebut perempuan asli Sampang, Madura, kelahiran 1972 itu.

Perkenalan Mbak Rum dengan sate berawal saat membantu Hayati, suaminya, berjualan di Jogjakarta usai keduanya menikah. Mbak Rum jualan keliling dengan cara disunggi. Sementara, sang suami menggunakan gerobak. ‘’Suami sakit, terus balik ke Sampang,’’ terangnya.

Setelah beberapa tahun vakum, keduanya memutuskan kembali jualan sate. Kota Madiun dipilih sebagai tempat hijrah sekitar 25 tahun silam. Awalnya pasangan suami istri (pasutri) itu berjualan seperti yang dilakukan di Jogjakarta. ‘’Sepuluh tahun keliling, lalu pindah ke sini,’’ tuturnya.

Ada rahasia yang membuat cita rasa sate Mbak Rum digemari. Sate khas Madura itu diolah dengan resep bumbu yang diwariskan turun-temurun dari keluarga. Pun, perempuan itu kerap mendapat pesanan dari berbagai daerah mulai Surabaya, Malang, Jogjakarta, Jakarta, hingga Medan. ‘’Sebenarnya kewalahan juga karena hanya berdua yang mengerjakan,’’ ucap ibu dua anak itu. *** (isd/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here