Santunan KPU RI Disalip Pemprov

26
BELUM TUNTAS: Ketua KPU Damhudi (dua dari kanan) mengunjungi Eka Setyowati, petugas KPPS yang keguguran usai Pemilu 2019 lalu.

PACITAN – Santunan untuk pejuang demokrasi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI belum jelas. Hingga kini santunan untuk petugas PPS, PPK dan KPPS yang sakit hingga meninggal dunia belum tersalurkan. Padahal datanya  sudah diajukan sejak pertengahan April lalu. Di Pacitan tercatat 38 pejuang demokrasi yang bertugas dalam  Pemilu 2019 lalu.

Sekretaris KPU Kabupaten Pacitan Bambang Sutejo mengatakan belum mendapat kabar terkait santunan untuk pejuang demokrasi dari KPU RI tersebut. Dari keterangan KPU Jatim pada 19 Mei lalu, penyerahan dilakukan dua bulan mendatang. Saat itu Pemprov Jatim membagikan santunan kepada pejuang demokrasi. ‘’Ketua KPU Jatim Khoirul Anam menyampiakan sekitar dua bulan lagi,’’ katanya Senin (11/5).

Informasi lain yang didapat, pemberian santunan bagi pejuang demokrasi tengah dibahas petunjuk teknisnya. Hanya, pembahasan tersebut masih dalam tahap bagi pejuang demokrasi yang meninggal dunia. Sementara bagi yang sakit belum dibahas. ‘’Itu saya ketahui setelah konfirmasi saat menyerahkan laporan bulanan,’’ ujarnya.

KPU Pacitan mengajukan 26 orang pejuang demokrasi. Satu di antaranya meninggal dunia. Sedangkan lainnya sakit. Jumlah tersebut menyusut dibanding data sebelumnya yakni 38 orang. Itu setelah verifikasi dan validasi data dari KPU RI. ‘’Seluruhnya berdasarkan lampiran data seperti pengobatan atau perawatan,’’ ungkapnya.

Sementara santunan dari Pemprov Jatim justru lebih dulu cair. Namun hanya untuk Sulardi, petugas pengamanan TPS asal Dusun Glinggangan, Padi, Tulakan, yang meninggal dunia. Bantuan tersebut diserahkan bersama 80 orang pejuang demokrasi lainnya di Gedung Grahadi pada 19 Mei lalu. ‘’Dari biro sosial pemprov Rp 5 juta dan gubenrur Khofifah Rp 10 juta. Totalnya Rp 15-an juta,’’ bebernya.

Sutejo menambahkan awalnya Sulardi sehat saat pencoblosan berlangsung. Setelah pulang mulai merasakan sakit. Namun, pria kelahiran 966 itu menolak berobat. Bahkan dia sempat mencari rumput untuk ternaknya dengan alasan sudah baik. ‘’Tetapi akhirnya meninggal dunia 25 April lalu,’’ imbuhnya. (odi/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here