Ponorogo

Sampung Bone Culture, Telusuri Jejak Purbakala di Gua Lawa

Jejak purbakala di Gua Lawa Sampung kembali dieksplorasi. Setelah mengalami pasang surut ekskavasi sejak era Dr Pieter Vincent Van Stein Callenfels, 1926 silam. Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional (Puslitbang Arkenas) memulai penggalian sejak 23 September hingga 15 November mendatang.

………………

LEBIH dari sembilan dasawarsa silam, Dr Pieter Vincent Van Stein Callenfels pertama kalinya melakukan penggalian di Gua Lawa Sampung. Tiga tahun lamanya, peneliti kebudayaan abris sous roche (gua-gua) melakukan penggalian sedalam 14 meter. Tak lama berselang, datang Van Heekeren yang kepincut melanjutkan penelitian rekan arkeolognya itu. ‘’Tanah urukannnya ditumpuk di sana,’’ kata Djatmiko, koordinator tim Puslitbang Arkenas, menunjuk gundukan tanah setebal empat meter di seberang gua.

Penelitian di masa kolonial itu menemukan tujuh individu kerangka manusia dan peralatan dapur dari tulang dan batu. Penanda hidup di zaman batu madya (mesolitikum). Dengan menjadikan gua sebagai rumah semipermanen. ‘’Zaman prasejarah itu, manusianya bertahan hidup dengan cara berburu dan meramu hewan dan tumbuhan di lingkungan sekitar,’’ ujarnya. Sayangnya, peneliti asing ini membawa fosil hasil ekskavasi itu ke negaranya. ’’Memilih tulang dan peralatan yang bagus untuk dibawa ke Belanda. Kita nggak punya data,’’ imbuh Djatmiko.

Faktor itulah yang mendasari Puslitbang Arkenas sebagai lembaga riset di bawah naungan Litbang Kemendikbud kembali melakukan penelitian serupa. Bersumber dari kedua peneliti asing itu, ekskavasi arkeolog Indonesia baru dimulai pada 1999. Berlanjut pada 2000, 2001, dan 2008. Setelah vakum 11 tahun, Puslitbang Arkenas kembali menerjukan tim ahli terdiri dari 13 personel. ‘’Jeda lagi karena kecil sekali anggarannya dari pemerintah. Baru 2019 ini mulai menggali, melacak, dan mengkroscek data lagi,’’ tuturnya.

Penelitian teranyar ini mendapati ragam temuan baru. Juga, perkakas tulang dan batu yang sama persis dengan alat yang dibawa peneliti ke Belanda. Sejak dulu, temuan dari Gua Lawa ini dikenal sebutan Sampung Bone Culture. ‘’Sebagian besar adalah peralatan  berburu dan meramu dari batu dan tulang,’’ ungkapnya.

Djatmiko menyebut, ada banyak jejak ’’bengkel’’ pembuatan alat mesolitikum di Indonesia. ‘’Paling banyak (peralatan) ditemukan di sini. Apalagi alat mata panah bergerigi,’’ sebutnya.

Jika dihitung sementara, alat-alat dari batu yang berhasil diidentifikasi berkisar 8-50 biji. Perkakas dari tulang sekitar 20 alat. Biasanya, manusia prasejarah setelah memakan daging hasil buruan, sisa tulangnya dijadikan ragam alat penunjang harian. Seperti tulang kerbau hutan sampai tulang dari tanduk rusa yang sudah dipipihkan. ‘’Ujung tulang yang besar dilancipkan. Tanduk rusa ujungnya dibikin pipih untuk ngorek-ngorek tanah,’’ bebernya.

Paling khas adalah mata panah bergerigi dari batu. Ujung mata panah ini biasa dipakai untuk keperluan berburu. Mata panah dasar cekung ini ditemukan di kedalam 5-90 sentimeter. Selain peralatan, dimungkinkan masih ada tulang beluang manusia era mesolitikum di gua ini. Dari atas tebing, lokasinya diperkirakan sedalam tiga meter. Seperti hasil temuan pada penelitian 2008 silam. ‘’Puluhan tahun silam juga sempat ditemukan dua kerangka manusia ras austro-melanesoid,’’ terangnya.

Namun, Djatmiko tak yakin belulang manusia prasejarah masih utuh. Jika masih ditemukan hari ini, tentu kondisinya sangatlah rapuh. Begitupun kontur gua yang telah mengalami pasang surut ekskavasi sejak 93 silam ini. ‘’Sangat fragile. Kalau kita gali bisa ambrol semua itu. Kedalamannya hampir empat meter dan tulang itu berada di dasar.’’ Djatmiko tak ingin terlampau bertaruh risiko. ‘’Bahaya. Teman-teman bisa kemblekan (tertimpa reruntuhan gua, Red) nanti,’’ imbuhnya.

Dugaan Djatmiko, manusia prasejarah singgah sekitar 3.000-7.000 tahun lalu. Gua Lawa ditinggali sekitar 20 orang. Cukup luas untuk bermukim dan di seberangnya terdapat sungai. ‘’Itu menjadi pertimbangan untuk hunian,’’ katanya. (dil/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close