Samekto Gumelar Sukses Mengangkat Kopi Lokal Mendunia

24
TELATEN: Samekto Gumelar ketika hendak memulai proses roasting kopi di sebuah mesin miliknya.

Mengolah biji kopi menjadi keseharian Samekto Gumelar sejak tujuh tahun silam. Dari awalnya sekadar memenuhi kebutuhan kedai sendiri, belakangan produk hasil roasting pria itu diminati pasar hingga luar negeri.

——————-

NUR WACHID, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

HARI sudah memasuki tengah malam. Namun, Samekto Gumelar masih sibuk di ruang produksi di belakang rumahnya. Pria itu duduk menghadap dua mesin roasting yang sedang bekerja. Tangannya dengan cekatan membolak-balik biji kopi. Sesekali matanya tertuju pada monitor pengukur suhu di mesin tersebut.

Beberapa menit berselang, dia menuangkan biji kopi hasil proses roasting ke sebuah nampan. Kemudian, berdiri mengangkatnya menuju ruang tengah. Menaruhnya dengan puluhan wadah serupa yang juga penuh biji kopi hasil roasting.

Ada biji kopi yang berwarna cokelat muda, cokelat tua, hingga hitam pekat. ‘’Dulu hanya satu mesin berkapasitas satu kilogram. Mulai awal tahun ini tambah satu mesin lagi,’’ kata Samekto.

Me-roasting biji kopi sudah menjadi keseharian Samekto sejak tujuh tahun silam. Awalnya dia hanya melakukan roasting kopi untuk mencukupi kedainya sendiri. Pun, biji kopi yang di-roasting masih jenis ’’impor’’ dari sejumlah daerah di Indonesia, bukan lokal.

Empat tahun berselang, Samekto mulai fokus pada proses roasting. Apalagi, biji kopi hasil roasting-nya diminati. Pesanan mulai berdatangan hingga akhirnya dia memutuskan menutup kedainya dan fokus menjadi roaster. Sejak itu pula ruangan belakang rumahnya disulap  menjadi ruang produksi.

Belakangan, pria 43 tahun itu tertarik mengolah biji kopi robusta dari Kare. Seiring berjalannya waktu, permintaan semakin deras mengalir dari berbagai daerah seperti Surabaya, Malang, Jogjakarta, dan Jakarta. Bahkan, hingga luar negeri seperti Singapura, Malaysia, dan Norwegia.

Samekto belajar teknik roasting secara otodidak. Teori pengolahan biji kopi baru dia dapatkan tahun lalu usai mengikuti pelatihan di Surabaya. Dari pelatihan itu, warga Kelurahan Manisrejo, Taman, Kota Madiun, ini mengantongi sejumlah faktor kunci yang memengaruhi cita rasa kopi hasil roasting.

Salah satunya, suhu harus terjaga saat proses roasting. Untuk menghasilkan light roas, misalnya, suhu mesti berkisar 190-195 derajat Celsius. Sedangkan shoft roas 195-210 derajat Celsius. Sementara, dark roas 210-260 derajat Celsius. ‘’Profil roasting dapat dilihat dari warna biji kopi ketika proses roasting selesai. Ada cokelat muda, cokelat tua, hingga hitam pekat,’’ tuturnya.

Samekto mematok kopi hasil roasting-nya dengan harga bervariasi, tergantung jenisnya. ‘’Untuk robusta Rp 35 ribu per 200 gram, kalau arabika Rp 60 ribu-75 ribu,’’ sebutnya. ***(isd/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here