Sambut Antusias Pembangunan Rusuwa

80

MAGETAN – Sosialisasi sudah gencar dilakukan pemkab. Lurah Sukowinangun Sucipto menyebutkan, wacana pembangunan rumah susun sewa (rusuwa) disambut antusias. Namun, dia belum memikirkan opsi ketika memang fasilitas itu sudah mulai dibangun. ’’Belum ada gambaran sementara mereka tinggal dimana, ya bisa mencari kontrakan sembari menunggu,’’ ujarnya.

Saat sosialisasi, Sucipto mengingatkan bangunan semi permanen 24 KK itu berdiri di aset Pemkab Magetan. Tak tertutup kemungkinan lahan itu bakal diambil setiap saat jika pemkab membutuhkan. Lain cerita jika mereka tinggal di rusuwa akan lebih leluasa. ’’Mereka senang dan ngarep-ngarep kapan dibangun,” jelasnya.

Sucipto tak tahu menahu mengapa ada puluhan warga yang mendirikan rumah di aset pemkab. Hal itu terjadi sudah puluhan tahun silam. Dari hanya beberapa KK yang tinggal, kini sudah beranak pinak. Bahkan, satu rumah bisa dihuni oleh dua KK sekaligus. Sudah sangat penuh. Sehingga sudah semestinya dibangunkan rusun yang lebih nyaman untuk mereka. ’’Sudah turun temurun dan mereka menetap disana,” jelasnya.

Mendengar cerita pendahulunya, kata Sucipto, pembangunan rumah semi permanen itu bermula saat Pasar Sayur kebakaran. Akhirnya, para pedagang di relokasi di tanah aset yang kosong sekitar 0,5 hektare itu. Kemudian, mereka mulai mendirikan rumah non-permanen dari papan. Seiring waktu, rumah non-permanen itu berubah menjadi semi permanen. Pedagang yang notabene merupakan warga luar Magetan akhirnya ber-KTP Magetan. ’’Sudah jadi warga kami semua,” jelasnya.

Dulunya, mereka tidak gratis menempati tanah aset itu. Ada kompensasi sebesar Rp 100 ribu per tahunnya. Karena waktu itu aset masih dikelola oleh pihak kelurahan. Setelah 2012, ada penertiban aset dan dikelola oleh pemkab. Menarik biaya sewa yang setiap tahun dilakukan, akhirnya dihentikan. Kelurahan tidak memiliki dasar penarikannya. Biarpun masyarakat menanti-nanti ditarik sewa. “Salah jika kami menariknya,” jelasnya.

Namun, jika nantinya dibangun rusuwa, kemungkinan warga bakal ditarik kembali biaya sewa. Sucipto yakin masyaraka tidak akan keberatan. Seperti apa pengelolaan rusun nanti, Sucipto masih awam. Hal itu masih baru baginya. Dia memilih menunggu dahulu kapan realisasi pembangunan rusun tersebut. “Kalau jadi rusun, nanti kan tetap jadi milik pemkab juga,” pungkasnya. (bel/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here