Saksi Reformasi, Setia Menjaga Keutuhan Negeri

30

Nama Fatchul Aziz identik dengan Nahdlatul Ulama’ (NU). Selama tiga periode, dia dipercaya menahkodainya. Semangat perjuangan dan organisasinya terwarisi dari kakek buyutnya yang pernah nyantri bareng Hadratusseykh Hasyim Asyari di Siwalan Panji, Buduran, Sidoarjo.

———————–

NUR WACHID, Ponorogo

MENJELANG dluhur, Fatchul Aziz tiba di Masjid Nahdlatul Ulama (NU) Ponorogo. Mempersilakan koran ini memasuki serambi. Berbaur dengan siswa SD Ma’arif yang menanti jemputan dan beberapa pekerja yang membenahi plafon masjid yang berdiri sejak 1931 itu. ‘’Sejak muda memang aktif berorganisasi,’’ terang Aziz.

Tiga prinsip utama berorganisasi tertanam kuat dalam jiwa Fatchul Aziz. Ibarat tubuh, setiap organ jangan sampai membawa citra buruk bagi, tidak mengejar jabatan, tidak lari jika diamanahi dan memegang teguh keyakinan jika menolong agama Allah pastilah bakal mendapatkan pertolongan balik. Prinsip itu dipegang erat Aziz dalam berorganisasi sejak masih muda. Hingga menjabat Ketua NU Ponorogo mulai periode 2009-2014, 2014-2019, dan 2019-2024. ‘’Mulai dengan makesta 1982 lalu saat masih duduk di Mualimin Maarif,’’ lanjutnya.

Aziz memulai kiprah organisasi sejak masih duduk di bangku Muallimin (sekarang Madrasa Tsanawiyah, Red). Usai mengikuti makesta 1982 silam, berlanjut menjadi ketua IPPNU ranting Sukosari 1984-1985 silam. Usai lulus dari Muallimin Ma’arif 1985 silam, dia melanjutkan studi di Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Selama kuliah dia tergabung dalam barisan PMII 1986 hingga 1991. Saat tragedi 1998 silam, Aziz masih ingat betul harus berangkat ke Jakarta. Tanpa membawa bekal apapun, baik pakaian maupun uang. Namun militansi terhadap organisasi untuk menjaga NKRI harus dikedepankan. Dia pun merapatkan barisan demi menjaga situasi negeri agar kondusif dan kekacauan sosial tidak meluas ke mana-mana. ‘’NU itu nggak muluk-muluk, sederhana visinya hanya menjaga Islam ramah, jaga NKRI, dan menjaga warisan pendiri negeri ini,’’ ungkap suami Siti Wuryan Wahyunati itu.

Usai lulus kuliah, dia kembali ke tanah kelahiran dan masuk kepengurusan GP Ansor Babadan 1992-1994. Kemudian diangkat menjadi wakil ketua GP Ansor Cabang Ponorogo 1994-1998. Selang setahun diangkat ketua GP Ansor Cabang Ponorogo hingga 2003. Pengalaman organisasinya mampu dipercaya banyak tokoh agama. Hingga dipercaya menjadi wakil ketua PCNU Ponorogo 2004-2009. Berlanjut menjadi ketua PCNU Ponorogo tiga periode berturut-turut hingga sekarang. Kiprah sejak muda itu menjadi pengalaman tersendiri bagi Aziz untuk membangun organisasi Islam terbesar di dunia ini, khususnya di Bumi Reyog. ‘’Untuk membaca gerakan NU itu juga mudah. NU itu luwes tidak kaku dan cenderung dapat diterima semua golongan,’’ sambungnya.

Kemampuan berorganisasi itu rupanya mewarisi dari kakek buyutnya, Mbah Kiai Ibrahim —tokoh besar pendiri PCNU Ponorogo 1930 silam. Cukup tua untuk ukuran organisasi cabang karena PCNU merupakan organisasi cabang yang keenam yang berdiri di Indonesia. Kakek buyutnya itu pernah nyantri bareng bersama Hadratussyekh Hasyim Asyari di Siwalan Panji, Buduran, Sidoarjo. Darah aktivisnya terwarisi dari kakeknya, Kiai Manhudi yang merupakan menantu Mbah Kiai Ibrahim. Sementara ilmu agama, selain belajar langsung dari ayahnya sendiri, KH. Muh Ashar, juga berguru kepada KH. Muh Ashar, Kiai Muksin Sofwan Nologaten, Kiai Abdul Wahib Pinggirsari, Kiai Romlan Kertosari, dan KH Bastomi Keludan Trenggalek. ‘’Problemnya saat ini kemapanan budaya kita mau diganti. Jika itu terjadi, artinya komitmen telah diingkari dan negara sedang genting,’’ tegasnya. *** (fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here