Rumini, Satu dari Tiga Perempuan Perajin Gerabah Seni

54

PACITAN – Peralatan memasak berbahan tanah liat mulai tergantikan logam dan plastik yang lebih awet. Saat peranti tradisional itu mulai tergilas zaman, para perajin harus putar otak untuk bertahan. Salah satunya berkreasi dengan gerabah seni seperti yang dilakoni Rumini.

Tanah liat itu digenggam Rumini. Kira-kira sekepal. Gumpalan itu lantas dipukulnya beberapa kali. Setelah kalis tanah, giliran dilempar dan diputar di atas kayu. Sekali tekan kerucut corong mulai terlihat. Tangannya sesekali dicelupkan ke air. Kali kesikian menekan tanah. Bulatan tanah liat itu berubah jadi guci kecil yang cantik. Satu jadi, bikin lagi lainnya dari awal. Begitulah keseharian Rumini.

Sebagai salah seorang perajin gerabah seni kawakan, Rumini tak ingat tahun berapa dia mulai menggelutinya. Sedangkan nenek dan ibunya secara  turun termurun perajin gerabah tradisional. Mulai cobek, kendi, hingga wajan. Dia mengenal gerabah sejak masih kecil. Ribuan alat memasak tradisional fasih dibentuknya. ‘’Mungkin sejak kelas dua sekolah dasar, tapi baru tahun 2000 bikin gerabah seni,’’ tutur warga Dusun Gunung Cilik, Purwoasri, Kebonagung, ini.

Dusun tempat Rumini tinggal merupakan sentra kerajinan gerabah. Tak ada yang tahu pasti sejak kapan dusun tersebut jadi pusat kerajinan berbahan tanah liat ini. Mereka menyebut sudah empat turunan. Namun, hanya Rumini dan tiga rekannya yang memulai menggeluti gerabah seni. ‘’Dulu ada pelatihan dari pemerintah. Banyak perajin yang belajar. Tapi hanya saya dan tiga teman bertahan dengan gerabah seni,’’ ujarnya.

Tingkat kesulitan membuat gerabah seni jadi tantangan tersendiri bagi ibu dua anak itu. Detail dan ukuran yang tak biasa jadi alasan banyak peserta pelatihan tak bertahan. Beragam gerabah seni. Mulai celengan karakter, vas bunga, gentong hias, hingga suvenir asbak dan meja kursi. Proses pembuatannya butuh waktu lama. ‘’Seperti celengan Sopo itu, saya bikin seminggu. Itu  belum proses pembakaran yang lebih rumit,’’ terang perempuan 57 tahun ini.

Tak hanya sulit, pemasaran gerabah seni juga beda dengan gerabah tradisional. Cobek misalnya, dijual borongan ke tengkulak. Sedangkan pembeli gerabah seni harus datang sendiri ke rumah Rumini. Pasalnya, dia hanya membuka kios di rumah dan beberapa tempat wisata di Pacitan. Namun, pembelinya datang dari seantero Jawa. Mulai dari Surabaya, Malang, Solo hingga Jogja. ‘’Harganya lebih mahal. Asbak Rp 4 ribu. Yang berukuran besar seperti guci atau gentong taman, bisa sampai jutaan rupiah,’’ jelas Rumini.

Meski lebih menekuni gerabah seni, Rumini tak lupa akarnya. Dia masih acap membantu perajin gerabah tradisional saat banjir pesanan. Sementara, untuk gerabah seni, Rumini mengerjakan sendiri jika ada pesanan. ‘’Anak saya kadang membantu membuat suvenir pernikahan,’’ katanya.

Bagi Rumini dan perempuan lain di dusunnya, gerabah ibart darah daging. Hampir seluruh perempuan di dusunnya mampu membuat gerabah. Sementara tak satu pun laki-laki tak ada yang menggeluti. ‘’Kalau suami paling bantu mengaduk adonan tanahnya,’’ pungkas Rumini.*** (sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here