Madiun

RSUD Soedono Krisis Dokter Spesialis

MADIUN – RSUD dr Soedono krisis dokter spesialis dan subspesialis. Sebab, jumlah dokter di rumah sakit milik pemprov itu belum ideal. Itu mengacu pada standar yang ditentukan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 56 Tahun 2014. ’’Kami sudah berupaya buka formasi di tiga posisi, tapi nggak ada yang daftar,’’ kata Direktur Utama RSUD dr Soedono Madiun dr Bangun Tripsila Purwaka kepada Jawa Pos Radar Madiun.

Tiga posisi itu masing-masing radiologi, rehab medik, dan anak (kesehatan anak). Selain tiga posisi yang kosong, masih ada tiga pelayanan medik lain yang sampai saat ini masih kurang. Yakni, spesialis paru dan bedah saraf. Masing-masing perlu penambahan dua dokter spesialis. Selain kurang, rumah sakit rujukan provinsi ini belum mempunyai dokter forensik. ’’Kedokteran forensik belum punya, minta belum ada. Jadi, sebenarnya jumlahnya cukup tapi kurang beragam,’’ ujarnya.

Kebutuhan dokter subspesialis juga masih kurang. Sesuai permenkes, paling sedikit dua pelayanan subspesialis dari empat subspesialis dasar. Mencakup pelayanan subspesialis di bidang spesialisasi bedah,  penyakit dalam, kesehatan anak dan obstetri, serta ginekologi. Sedangkan di rumah sakit baru ada dua subspesialis obstetri dan ginekologi. ’’Saya harus mengakui bahwa kadang-kadang subspesialis perlu alat dan sarana prasarana lengkap, dan ada yang belum men-support atau sebaliknya,’’ tuturnya.

Untuk menambah kebutuhan dokter subspesialis ini, RSUD dr Soedono diperbantukan oleh dokter fellow. Yakni, sebutan untuk peserta pendidikan dokter subspesialis. Sebab, untuk sekolah subspesialis sendiri membutuhkan waktu hingga dua tahun lamanya. ’’Ditanggulangi dokter fellow. Kalau full (dua tahun) dia (dokter, Red) harus tinggalkan dua tahun di sini, ya repot,’’ sebutnya.

Kebutuhan dokter kian mendesak jika gedung Trauma Center rampung dibangun. Untuk gambaran saja, Bangun menilai bakal ada tambahan dokter spesialis bedah saraf dan spesialis ortopedi. ‘’Mungkin menambah satu-satu,’’ ungkap Bangun.

Bagaimana dengan ide membuka penambahan dokter melalui badan layanan umum daerah (BLUD)? Bangun pesimistis jalur itu efektif untuk menambah kebutuhan dokter. ‘’PNS saja belum ada yang daftar,’’ selorohnya.

Pun, Bangun enggan berkomentar banyak alasan dokter yang kurang tertarik bekerja di RSUD dr Soedono. Banyak faktor yang menjadikan alasannya. Padahal, Kota Madiun adalah kota dengan pertumbuhan ekonomi yang baik. ‘’Ada dokter yang salah penempatan, harusnya di RSUD dr Soetomo malah di sini (RSUD dr Soedono, Red). Sekarang malah nggak mau pindah,’’ bebernya.  (mg2/c1/ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close