Ngawi

Rohmad, Pengusaha Resto yang Rajin Berbagi dengan Kaum Duafa

Siapa berbagi dengan sesama bakal dilapangkan rezekinya. Prinsip itu diyakini betul oleh Rohmad, salah seorang pengusaha resto di Kota Madiun. Sejak menjadi pebisnis, pria itu rajin menyantuni lansia, yatim piatu, dan kaum duafa lainnya.

—————————

BERSAMA kedua tamu yang datang ke kantornya di Jalan Mego Indah, Rohmad asyik membahas seputar bisnis. Beberapa menit kemudian, Rohmad beranjak menuju meja kerjanya. Tak jauh dari situ terdapat banner berisi tulisan lansia, yatim piatu, pembangunan rumah ibadah, dan penggalangan dana untuk korban bencana.

Sudah setahun Rohmad mengelelola Mashita Foundation. Pria 35 tahun ini setiap bulan sengaja menyisihkan 2,5 persen pendapatan resto miliknya untuk disalurkan kepada mereka yang membutuhkan melalui yayasan itu. ‘’Kebanyakan bantuan disalurkan ke Madiun, Magetan, dan Ponorogo,’’ paparnya.

Beragam cara dilakukan Rohmad untuk mencari taget sasaran yang akan dibantu. Mulai berkeliling sendiri dari kampung ke kampung hingga postingan di media sosial (medsos). Beberapa bulan lalu, misalnya, dia mendapat informasi adanya lansia kurang mampu di Ponorogo yang membutuhkan donasi.

Akhirnya Rohmad berangkat ke sana ditemani pegawainya. Ketika bertemu lurah desa setempat, dia dibuat terkejut lantaran si lansia termasuk kalangan mampu. Akhirnya, Rohmad mengurungkan niatnya mendatangi rumah lansia tersebut. ‘’Makanya sekarang saya filter agar bantuan yang kami berikan benar-benar tepat sasaran,’’  ujarnya.

Rohmad tergerak mendirikan yayasan untuk membantu orang-orang yang kurang beruntung sebagai wujud rasa syukur. Yakni, dari yang awalnya hidup pas-pasan, dirinya kini menjelma menjadi pengusaha sukses.

Ya, sejak kecil Rohmad hidup serba kekurangan. Meski saat SMP nilai ujian nasionalnya masuk 10 besar terbaik se-Magetan, lantaran terbentur biaya, dia rela tidak melanjutkan studi. ‘’Saya kerja serabutan sampai akhirnya merantau ke Jakarta,’’ ungkapnya.

Di Jakarta dia pernah kerja sebagai kuli bangunan dan berjualan mi ayam. Menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Korea Selatan juga sempat dilakoninya. Dua tahun berkerja di negeri orang, Rohmad mampu mengumpulkan uang untuk modal usaha yang kini berkembang pesat. ‘’Alhamdulillah punya 27 karyawan dan tiga cabang di Kota Madiun dan Ponorogo,’’ ucapnya.

Pesatnya perkembangan bisnis Rohmad tidak terlepas dari kebiasaannya berbagi untuk sesama.  Bulan puasa lalu, misalnya, dia sengaja menyisihkan tabungannya senilai Rp 10 juta untuk membuat ribuan takjil. ‘’Sebelumnya kalau bagi takjil jumlahnya tidak sebanyak itu,’’ ungkapnya.

Seiring dengan melejitnya usaha, Rohmad kian semangat menyisihkan pendapatan restonya untuk disalurkan ke yayasannya. Jika pemasukan restonya kian banyak, jumlah donasi yang diberikan juga bertambah. ‘’Harapannya seperti itu,’’ katanya. ***(dila rahmatika/isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close