Rintis Wisata Religi, Pemdes Temboro Selesaikan Pembangunan Gapura

740

MAGETAN – Kawasan wisata religi Temboro kini sudah punya ikon baru. Bukan hanya kultur budaya Islam yang kental tapi ada bangunan ikonik. Bentuknya berupa gapura masuk desa yang begitu megah di sisi utara desa yang berbatasan langsung dengan Desa Jungke, Karas. Tepatnya di dekat pondok pesantren Al-Fatah.

Gerbang yang berukuran sekitar 6×10 meter itu bertuliskan Desa Temboro, Karas, Magetan, Jawa Timur, Indonesia. Keberadaannya seakan sebagai penanda pula masuk ke kawasan yang biasa dikenal dengan nama ’’Kampung Madinah’’ tersebut.

Sekretaris Desa Temboro Safi’ mengatakan, warga sudah lama menginginkan adanya bangunan yang ikonik. Seiring dicanangkannya desa tersebut menjadi kawasan wisata religi. Gapura dianggap cukup mewakili bangunan ikonik tersebut. Mereka percaya dengan adanya gapura yang besar bisa menunjukkan keberadaan Desa Temboro yang besar pula. ’’Jadi sebuah penanda, ikon,’’ katanya.

Keinginan masyarakat itu tak terlepas dari Desa Temboro yang sering menjadi jujukan warga luar daerah yang ingin menimba ilmu agama disana. Bukan hanya dari luar kota, melainkan hingga luar negeri. Namun, selama ini tidak ada bangunan yang menjadi penanda masuk desa tersebut. Hanya gapura minimalis layaknya desa lain. ’’Temboro kan punya ponpes yang besar juga yang sering dikunjungi masyarakat luar,’’ terangnya.

Pembangunan gapura megah itu setidaknya membutuhkan waktu hingga dua tahun. dibangun sejak 2017 lalu. Duit sebesar Rp 200 juta habis. Dananya diambilkan dari pendapatan asli desa (PADes) Temboro. PADes Temboro memang tidak begitu besar, hanya sekitar Rp 90 juta setahunnnya. Oleh karena itu pembangunan gapura dibuat multiyears. ’’Pembangunannya bertahap. Karena menyesuaikan anggaran yang ada,’’ jelasnya.

Untuk membangun gapura megah itu, menurut Safi’ tidak melibatkan pihak luar. Desain gapura itu dirancang oleh warga setempat dan tim dari Pemdes Temboro. Hanya otak – atik sesuai selera. Setelah sketsa ready, barulah dibawa ke jasa konsultan. Itu pun masih memanfaatkan potensi lokal. ‘’Kami konsultasikan gambar yang kami desain, cocok tidak. Dari situ dikembangkan,’’ terangnya.

Sedangkan untuk membangun gerbang itu, juga tidak menggunakan jasa konstruksi dari luar. Masyarakat yang memiliki kemampuan untuk mengerjakan gapura itu, diberi mandat untuk membangunnya. Hasilnya, seperti yang sekarang ini tampak. Gapura itu kokoh berdiri menyambut masyarakat yang datang dari luar daerah dan memberi salam selamat jalan bagi mereka yang pulang. ‘’Potensi lokal sangat kami perhatikan. Masyarakat setempat kami berdayakan,’’ katanya.

Tak cukup hanya dengan membangun gapura. Menurut Safi’ untuk menyukseskan visi misi Bupati Suprawoto itu, Pemdes Temboro akan terus mengembangkan Temboro. Pihaknya akan menata lingkungan. Tak hanya ponpes yang menjadi jujukan, namun sekitaran ponpes yang menjadi jantung prekonomian Desa Temboro. Seperti keberadaan pasar yang ramai mulai pagi hingga malam. Penghijauan juga akan dilaksanakan agar suasana di desa tersebut terasa semakin asri. Pun, dengan kebersihannya. ‘’Kami akan  mendukung dan menyukseskan menjadikan Temboro sebagai kawasan wisata religi,’’ pungkasnya. (bel/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here