Ribuan Warga Terdampak Kekeringan

190

PONOROGO – Ribuan warga mulai terdampak kekeringan. Krisis air bersih itu mulai dirasakan 332 kepala keluarga (KK) di Desa Kambeng dan Desa Duri, Mlarak. Juga, 2.497 jiwa di Tulung (Sampung), Karangpatihan (Pulung), Dayakan (Badegan), Suren (Mlarak), dan Pandak (Balong).

Di Gunting, Suren, Mlarak, misalnya. Warga terpaksa menggantungkan air sungai untuk mandi, cuci, kakus (MCK). Untuk mencukupi kebutuhan pokok rumah tangga terpaksa menanti pasokan air bersih dari BPBD. ‘’Beberapa hari lalu sempat dikirim sekitar 12 ribu liter air bersih. Itu ditampung dalam delapan tandor air,’’ kata Mayar, salah seorang warga setempat.

Kendati demikian, pasokan air bersih itu hanya mampu mencukupi kebutuhan pokok 400 KK yang tersebar di lima rukun tetangga (RT) dalam seminggu. Selebihnya, terpaksa harus membeli air bersih sendiri dengan harga sekitar Rp 300 ribu per tangki. ‘’Hampir setiap tahun masyarakat sekitar sini selalu dilanda krisis air bersih saat musim kemarau,’’ terang pria 48 tahun itu.

Kabid Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Ponorogo Setyo Budiono mengatakan suplai air bersih terus digelontorkan ke wilayah yang dilanda kekeringan sampai kondisi kembali normal. Untuk jangka panjang, pemkab mengandalkan sumur bor dan embung. ‘’Diperkirakan musim kemarau berlangsung sampai Agustus,’’ katanya kepada Radar Ponorogo kemarin (8/7).

Dia mengungkapkan, mayoritas yang kekeringan adalah wilayah yang pada tahun-tahun sebelumnya juga mengalami krisis air bersih. Total ada 14 dusun yang tersebar di 10 desa. Dari jumlah tersebut, enam desa di antaranya sudah mendapatkan pasokan air bersih. ‘’Saat ini, statusnya siaga darurat kekeringan,’’ ungkap Budi.

Sebagai langkah antisipasi, BPBD telah menyiapkan anggaran Rp 200 juta untuk penanganannya. Dana itu digunakan untuk operasional pengiriman air bersih. Dengan anggaran seminim itu, sulit membayangkan suplai air bersih bisa lancar kepada warga sampai akhir musim kemarau ini. ‘’Kalau kurang, diambilkan dari dana tak terduga. Kami juga bisa mengajukan penambahan (bantuan) anggaran ke BPBD Jatim,’’ katanya.

Berdasarkan survei Bappeda Litbang, cakupan pelayanan air bersih kepada warga Ponorogo baru mencapai 60,31 persen. Beberapa solusi sudah ditempuh untuk penyediaan dan pengelolaan air baku guna memenuhi kebutuhan pokok bagi rumah tangga di wilayah defisit air. Seperti pembangunan Embung Dayakan di daerah aliran sungai (DAS) Sungkur, 2009 lalu. Embung Dayakan dapat menyediakan air baku bagi 398 KK atau sekitar 1.427 jiwa dan sawah seluas 56,84 hektare. (her/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here