Ribuan Petani Tak Dapat Klaim Ganti Rugi

110

MADIUN – Ribuan petani terdampak bencana banjir patut merenungkan kembali keputusan tidak ikut asuransi usaha tani padi (AUTP). Sedikitnya 69 dari 497 hektare sawah terdampak parah tidak memperoleh klaim ganti-rugi atas gagal panen yang diderita. ‘’Tidak ada poktan (kelompok tani, Red) terendam banjir ikut AUTP,’’ kata Plt Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Perikanan (Disperta) Kabupaten Madiun Suyatno.

Suyatno memerinci luasan sawah yang ikut AUTP dari poktan non-swadaya periode sebelumnya. Kepesertaan dengan premi dibayar sendiri tanpa subsidi pemerintah.  Kecamatan Pilangkenceng ada 100 hektare, Mejayan 80 hektare, Wonoasri 40 hektare, dan Balerejo 20–30 hektare. Perkiraannya, satu petani memiliki sawah sekitar 0,5-0,7 hektare. Persoalannya, ketika terjadi banjir, wilayah tersebut tidak mengikuti AUTP baik program atau non-swadaya. ‘’Perlindungan AUTP tidak hanya banjir, tapi kekeringan, puting beliung, dan serangan hama,’’ ujarnya.

Balerejo menjadi wilayah terparah dari total 497 hektare lahan terendam banjir. Rendaman hingga mengakibatkan kerusakan padi mencapai 70 persen tersebar di lima desa. Yakni, Glonggong, Garon, Jerukgulung, Bulakrejo dan sebagian Gading. Karena tidak bisa menerima manfaat asuransi, pemkab mengalihkan bantuan jenis lain. ‘’Kami bantu dengan benih padi yang jumlahnya akan ditambah dengan prioritas di Balerejo,’’ katanya kepada Radar Mejayan.

Dia menepis penyebab ribuan petani tidak ikut asuransi pertanian karena minimnya sosialiasi. Program pemerintah pusat yang diluncurkan tiga tahun lalu itu telah disebarluaskan oleh mantri tani dan penyuluh pertanian lapangan (PPL). Sasarannya,  lahan persawahan wilayah rawan bencana alam dan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Hingga berpotensi mengakibatkan puso. ‘’Kesadaran petani memang kurang,’’ kilahnya.

Menurut Suyatno banjir kali ini harus dijadikan pengalaman bagi para petani. Program AUTP bisa menekan kerugian yang ditimbulkan dari bencana. Lewat membayar premi Rp 36 ribu klaim sebesar Rp 6 juta per hektare. Di sisi lain, pihaknya akan memprioritaskan wilayah terdampak banjir kali ini sebagai peserta asuransi padi. Penerapannya lewat program Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) Jawa Timur. Yakni, satu kabupaten lima ribu hektare sawah padi terlindung asuransi. Organisasi tersebut bakal menanggung preminya. ‘’Rencana dimulai bulan ini sampai Juni 2019,’’ katanya.

Tanpa perlu penawaran, karena PPL sudah mengantongi data luas area sawah dan gabungan kelompok tani (gapoktan) masing-masing desa. Catatan tersebut tinggal ditindaklanjuti dengan pengadministrasian. Sasaran utama program itu wilayah utara kabupaten. Mulai Wonoasri, Mejayan, Sawahan, Pilangkenceng, Balerejo, dan Saradan. ‘’Tapi ke depannya akan ditawari semua,’’ tandasnya. (cor/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here