Ponorogo

Reyogchestra Kembangkan Musik Reyog Lebih Kreatif dan Inovatif

Perpaduan Musik Modern dan Tradisional

Joey Tempest, keyboardist Europe, mungkin tidak akan menyangka bila irama synthesizer lagu The Final Countdown bisa dimainkan cukup baik dengan selompret. Improvisasi tersebut dimainkan oleh Reyogchestra.

===================

MIZAN AHSANI, Ponorogo, Radar Ponorogo

AKSI pertunjukan reyog di alun-alun Ponorogo suatu malam pada tahun lalu kurang mengena di benak Diki Kurniawan. Irama musik pengiringnya dirasa monoton. Membuat bosan para penonton.

Persoalan tersebut yang lantas melahirkan Reyogchestra. Wadah bagi para seniman khususnya pemain iringan musik kesenian tersebut. ‘’Musik iringan reyog harus bisa berkembang dan inovatif,’’ kata Diki, perintis Reyogchestra.

Diki membawa kegelisahannya kepada sekumpulan pengrawit. Ternyata, banyak yang dihinggapi perasaan sama. Mereka mengangankan musik yang disajikan oleh berbagai alat gamelan dan selompret harus berkembang. Akar masalahnya, selera masyarakat sebagai pendengar terus meninggi.

Apalagi, zaman yang semakin modern membuat siapa pun mudah menyelami berbagai genre musik. ‘’Musik reyog identik musik tradisional. Kami merasa perlu menginisiasi, memasukkan pola musik yang berkembang ke dalam garapan tersebut. Dan lahirlah Reyogchestra,’’ papar Diki.

Perjuangan dimulai lewat menyelipkan aransemen musik modern ke dalam musik garapan sendiri. Alat musik yang dipakai awalnya gamelan. Irama tabuhan ternyata enak di telinga. Diki dkk lantas mencoba medium lainnya, termasuk selompret. The Final Countdown karya Europe bisa dimainkan dengan bersih. Meski sang peniup alat itu harus bersusah payah lantaran nada yang terlalu tinggi. ‘’Akhirnya perpaduan ini kami tampilkan dari panggung ke panggung,’’ terang Diki.

Penerimaan masyarakat terhadap musik kontemporer khas Reyogchestra beragam. Hal wajar karena kombinasi musik tradisional dan modern dengan medium alat iringan reyog adalah hal baru. Lambat laun, penikmat karya Diki dkk bermunculan. Ketertarikan masyarakat adalah lagu yang dimainkan itu karya yang tidak asing di telinga. Misalnya, campursari. ‘’Vokal (musik modern) menambah kerumitan susunan harmoni karena pola dasar musik yang berbeda. Sulit, tapi menarik,’’ ungkapnya.

Reyogchestra mulai sering diundang ke berbagai acara. Tidak hanya sebagai pengiring pertunjukan reyog, tapi juga menyajikan kreasi musik khas. Sejumlah anak muda juga mulai tertarik belajar. Pintu dibuka seluas-luasnya. ‘’Pada titik ini, seniman pengrawit menjadi lebih inovatif dan kreatif melalui Reyogchestra,’’ pungkasnya. ***(cor/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close