Revisi PP Perubahan Nama Kota Baru Tunggu Teken Presiden

467

MEJAYAN – Pemkab Madiun menahbiskan Caruban sebagai ibu kota kabupaten ini. Kendati revisi Peraturan Pemerintah (PP) 52/2010 tentang Pemindahan Ibu Kota Kabupaten Madiun dari Kota Madiun ke Kecamatan Mejayan belum turun. Belakangan nama yang sempat menjadi polemik itu sudah dipropagandakan sebagai label identitas pusat pemerintahan (puspem) dalam berbagai kesempatan. ‘’Tidak ada masalah menyebut Puspem Caruban, karena arah revisi PP memang ke sana,’’ kata Sekdakab Madiun Tontro Pahlawanto.

Tontro menyatakan, amandemen PP 52/2010 di pemerintah pusat secara de facto sudah klir. Baik Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum-HAM), dan Kementerian Sekretaris Negara (Kemensetneg), Badan Pertanahan Nasional (BPN) sudah ada kesepakatan. Menyetujui Caruban sebagai ibu kota sekaligus melekat penamaan puspem. Sedangkan de jure-nya tinggal menunggu pengesahan Presiden Joko Widodo. ‘’Kapan turun belum tahu, karena ini sudah sepenuhnya ranah pusat,’’ ujarnya kepada Radar Mejayan.

Tontro menyebut pemkab tidak menginginkan polemik penamaan Caruban-Mejayan berlarut. Sebab, sebetulnya usulan menggunakan nama Caruban sebagai ibu kota sudah masuk permohonan pemindahan ibu kota ke Kecamatan Mejayan. Namun, proposal yang diajukan kala itu tidak disetujui. Alasannya, Caruban tidak mempunyai titik koordinat berdasar geografis kewilayahan. Karenanya, yang dipakai Mejayan. Seperti yang sudah diketahui nama kelurahan dan kecamatan. ‘’Sebenarnya, Caruban itu ya di Mejayan ini. Karena soal sejarah, tidak bisa dijelaskan secara eksplisit dalam pengajuan,’’ paparnya.

Lantas, apa latar belakang pemerintah pusat berubah pikiran? Tontro menyebut pemicu utamanya gelombang penolakan masyarakat. Mulai aktivitis lembaga swadaya masyarakat (LSM) hingga sejarawan melakukan unjuk rasa dan meluapkan protesnya. Kondisi itu membuat pihaknya dan DPRD bersepakat melayangkan permohonan revisi PP. ‘’Pusat akhirnya bisa melunak. Meski prosesnya memang cukup menyita waktu,’’ ucap mantan kepala badan perencanaan dan pembangunan (bappeda) tersebut.

Finalnya pembahasan ditindaklanjuti perlahan dengan mengganti plakat tempat-tempat ikonik yang semula tertulis Mejayan. Selain keinginan warga, penggantian itu juga menyongsong masa depan Caruban sebagai kota baru. Pemakaian nama yang sudah populer di masyarakat selama ini diyakini akan menjadi citra diri kabupaten ini. Terutama dalam konteks pengembangan. Pemkab juga akan melakukan penyesuaian Perda 9/2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Periode 2009–2029. PP anyar yang kelak turun dijadikan landasannya. ‘’Konsepnya, Kecamatan Mejayan sebagai kawasan pusat, dan daerah di sekelilingnya sebagai penyangga,’’ beber Tontro. (cor/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here