Retribusi Pasar Bikin Gusar

42
TRIWULAN KEDUA: Realisasi retribusi dari 20 pasar tradisional baru menyentuh 34 persen, per bulan lalu.

MEJAYAN – Realisasi retribusi sewa pasar tradisional belum melegakan. Menjelang berakhirnya triwulan kedua 2019, sumbangsih para pedagang untuk pendapatan asli daerah (PAD) belum ada separo dari target Rp 2,2 miliar. Membuat dinas perdagangan koperasi dan usaha mikro (disperdakop-UM) Kabupaten Madiun gusar. ‘’Potensi dari total 20 pasar mentok di kisaran Rp 1,7 hingga Rp 1,8 miliar,‘’ kata Plt Kabid Pasar Disperdakop-UM Kabupaten Madiun Agus Suyudi Kamis (13/6).

Catatan badan pendapatan daerah (bapenda) terhitung 23 Mei, capaian retribusi puluhan pasar itu sebesar Rp 757 juta. Bila dipersentasekan baru 34 persen dari target. Agar bisa tercapai, disperdakop-UM setidaknya harus mampu menyetor retribusi rata-rata Rp 186 juta per bulannya. Kenyataannya, organisasi perangkat daerah (OPD) itu hanya bisa memungut Rp 165 juta dari biaya sewa tempat jualan para pedagang. Ada defisit Rp 21 juta. ‘’Kemampuan kami memang segitu karena dasar retribusi adalah total sewa setiap bulan,’’ ujarnya kepada Radar Caruban.

Agus mengatakan, target Rp 2,2 miliar dari bapenda cukup berat mengingat jumlah los dan kios tidak ada penambahan. Total ada 4.420 unit sesuai pendataan dua tahun silam. Masalahnya, jumlah ribuan stan belum tentu digunakan untuk berjualan setiap hari. Padahal, lembaganya memungut retribusi sewa hanya ketika stan dimanfaatkan. Baik pasar yang operasionalnya harian atau mingguan. ‘’Berkaca kondisi itu, kami mengajukan target Rp 1,7 miliar, tapi yang disahkan Rp 2,2 miliar,’’ bebernya.

Disperdakop-UM mencoba mencari sumber pendapatan lain di luar pungutan sewa. Di antaranya parkir kendaraan dan toilet bagi para pengunjung. Untuk jenis pengutan yang disebutkan terakhir itu, disisihkan sebagai biaya untuk jasa kebersihan. Sedangkan orientasi renovasi pasar tidak menunjang peningkatan retribusi, melainkan sekadar mengundang pengunjung untuk datang. ‘’Pengecualian Pasar Baru Caruban kalau wacana penambahan stan permainan di lantai dua terealisasi,’’ ujar Agus.

Terpisah, Kabid Pembukuan dan Penagihan Bapenda Kabupaten Madiun Ari Nursurahmat menjelaskan, target Rp 2,2 miliar sejatinya sudah diterapkan tahun lalu. Nominal tersebut diputuskan sesuai pertimbangan kemampuan dan komunikasi dengan disperdakop-UM. Akan tetapi, target tersebut dikoreksi turun menjadi Rp 1,6 miliar saat perubahan anggaran keuangan (PAK). OPD meminta penurunan lantaran lima pasar direvitalisasi. ‘’Tahun ini ditetapkan lagi Rp 2,2 miliar dengan asumsi pasar sudah normal dan sanggup menunjang besaran retribusi,’’ ucapnya sembari menyebut realisasi tahun lalu malah over Rp 1,8 miliar.

Karenanya, Ari yakin target kali ini bisa tercapai. Selisih kekurangan sekitar Rp 20 juta dari besaran rata-rata setoran per bulan disperdakop-UM bisa ditutup dari pasar yang telah direvitalisasi itu. Meski optimistis, bapenda tetap memantau progresnya. Bila target tidak memungkinkan tercapai, bakal dievaluasi kembali saat PAK. ‘’Kalau pun turun, tidak tinggi,’’ katanya. (cor/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here