Resign dari Radio, Vivi Berkibar dengan Bisnis Jamu Tradisional

73

Zaman semakin modern, namun tidak serta merta membuat jamu tradisional ditinggalkan. Bahkan, produk jamu buatan Oktavia Purnawati Wijayaningrum mampu merambah pasar hingga luar negeri.

———-

AROMA khas beras kencur tercium kuat dari stan Oktavia Purnawati Wijayaningrum di sebuah ajang pameran. Sementara, perempuan itu tampak sibuk melayani pengunjung yang mampir. Sesekali dia mengusap keringat yang membasahi pipinya. Maklum, selain pembeli yang berjubel, cuaca kala itu terbilang panas. ‘’Nggak nyangka, ternyata laris,’’ katanya.

Sudah sekitar tiga empat tahun Vivi –sapaan akrab Oktavia Purnawati Wijayaningrum- bergelut dengan usaha jamu. Sebelumnya, dia berprofesi sebagai tenaga marketing salah satu stasiun radio swasta di Kota Madiun.

Jalan rezeki perempuan 39 tahun itu dari usaha jamu bermula saat suatu hari Rizky Oktavian, suaminya, minta dibuatkan minuman segar. Ibu satu anak ini lantas meracik jamu bermodalkan resep yang didapat dari internet. ”Kata suami waktu itu rasanya ada yang kurang. Setelah itu, saya bereksperimen sampai mendapatkan rasa yang pas,” kenangnya.

Vivi kemudian berniat menjual jamu racikannya tersebut. Dia lalu membuat beberapa tester dan dibagikan ke tetangga dan kerabat. Tak  disangka, banyak yang memuji jamu buatannya. ”Saya pun mantap jualan, memanfaatkan media sosial dan ikut pameran atau bazar,”  ungkapnya.

Singkat cerita, Vivi tertantang menawarkan produk jamunya ke sebuah hotel berbintang. Gayung bersambut, pihak hotel merespons. Produk jamu buatan Vivi diuji oleh chef andalan setempat. ”Ternyata mereka suka. Sejak itu saya rutin stok ke sana. Dari situ akhirnya bisa masuk ke hotel lain,” paparnya.

Sejak pertengahan 2017 lalu Vivi mulai memelototi packaging produk jamu buatannya agar lebih pas dengan segmen pasar yang dibidik. Dia lantas mengganti desain logo merek hingga beberapa kali revisi. Juga berburu botol kaca unik sampai Surabaya. ”Di Madiun waktu itu nggak ada,” sebut warga Jalan Ranumenggalan, Kota Madiun, ini.

Selama ini Vivi memproduksi berbagai jenis jamu tradisional mulai beras kencur, temulawak, hingga kunir asam. Produk buatannya itu dibanderol mulai Rp 9.000 (kemasan botol plastik) sampai yang paling mahal Rp 150.000 (botol kaca).

Seiring waktu, usaha jamu yang ditekuni Vivi semakin berkembang. Kini, produknya tidak hanya untuk konsumsi lokal, tapi sudah merambah hingga luar kota, bahkan mancanegara. Dia juga memiliki banyak reseller di berbagai daerah. Tidak mengherankan jika omzet penjualannya mencapai belasan juta rupiah per bulan.

‘’Pernah kirim ke Hong Kong. Pak SBY (mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Red) dan Bu Khofifah (gubernur Jatim terpilih Khofifah Indar Parawansa, Red) sempat mencicipi jamu buatan saya waktu kunjungan ke Madiun,” ujarnya sembari menyebut jamunya bisa tahan sampai tujuh hari. ***(dila rahmatika/isd/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here