Resign dari BUMN, Fajar Mendulang Rezeki dari Mural

126

Menjamurnya kafe di Madiun membuka jalan rezeki bagi Fajar Zakiyyuddin. Dari awalnya mematok tarif Rp 700 ribu, pria 28 tahun itu kini memasang harga menyentuh angka jutaan rupiah.

—————–

BERAGAM gambar tumbuhan dan hewan menghiasi lantai 2 sebuah kafe di penggal Jalan Cokroaminoto. Mulai lukisan wajah perempuan dengan cangkir kopi menuangkan cairan hitam hingga angsa warna merah muda yang terlihat mencolok. Ada pula gambar tiga dimensi yang membawa imajinasi pengunjung seolah sedang berada di ruang angkasa.

Berbagai gambar tersebut merupakan mural hasil goresan tangan Fajar Zakiyyuddin. Pria 28 tahun itu sudah menahun menjadikan tembok sebagai kanvas untuk menuangkan ide kreatifnya. ‘’Mulai bikin mural sejak 2010 setelah resign dari INKA,’’  kata warga Jalan Sendang, Kota Madiun, ini.

Selama itu pula dia telah menggarap puluhan proyek di Madiun dan Ponorogo. Mulai tembok kafe, rumah hunian, hingga barbershop. Juga objek wisata. Akhir tahun lalu, Fajar membuat mural di Waduk Bening, Saradan, Kabupaten Madiun. ‘’Tapi yang paling sering kafe,’’ sebutnya.

Fajar hobi menggambar sejak kecil. Semasa SMA, dia tertarik dengan grafiti, lalu merambah ke sepatu lukis. Sepatu polos dia beri gambar dan laku dijual seharga Rp 100.000. ‘’Lulus SMA diajak Om kerja di INKA. Selama kerja itu saya vakum (menggambar, Red),’’ ujarnya.

Baru setelah resign dari BUMN itu, Fajar kembali bersentuhan dengan peranti melukis. Awalnya dia menawarkan jasa membuat mural ke beberapa teman yang hendak membuka kafe atau resto. ‘’Orderan pertama bikin mural di Jalan Sulawesi. Waktu itu seminggu baru jadi,’’ kenangnya.

Seiring berjalannya waktu dan menjamurnya bisnis kuliner di Madiun, Fajar kebanjiran order membuat mural di tembok kafe-kafe. Anak ketiga dari empat bersaudara itu pun mampu meraup pundi-pundi rupiah hingga belasan juta. ‘’Awalnya dulu per proyek saya hargai Rp 700 ribu, sekarang ada yang sampai Rp 10 juta, tergantung tingkat kerumitannya,’’ papar Fajar.

Jika ada  permintaan mural, Fajar memulainya dengan mendiskusikan konsep dengan klien. Lalu, dia membuat sketsa sebagai gambaran awal. Jika setuju, Fajar langsung eksekusi. Biasanya, dia menggandeng beberapa rekannya untuk membantu blocking dan mewarna. ‘’Tim saya paling banyak empat orang,’’ sebutnya.

Bagi Fajar, melukis mural di tembok gampang-gampang susah. Semakin tinggi dinding, semakin menguras energi. Apalagi, Fajar cenderung melukis langsung tanpa membuat sketsa terlebih dahulu di tembok. ‘’Kelamaan kalau harus digambar dulu, jadi langsung pakai kuas, ‘’ ucapnya.

Selain mural di dinding kafe, sesekali Fajar melukis tembok tempat umum. Sebut saja gambar perempuan berkerudung di seputaran alun-alun Kota Madiun. ***(dila rahmatika/isd/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here