Residivis Pencurian Dilaporkan Kasus Pemerkosaan Gadis Bawah Umur

468

MADIUN – Tedi Setiawan harus kembali meringkuk di sel tahanan. Namun, kejahatan yang dilakukan warga Bantengan, Wungu, itu bukan lagi pencurian seperti yang pernah dilakukannya.

Pemuda 19 tahun ini diduga menyetubuhi Ant, bocah 11 tahun. Dia terancam penjara maksimal 15 tahun sesuai pasal 81 atau 82 UU  17/2016 tentang Perlindungan Anak. ‘’Residivis tiga kasus pencurian, dua kali dipenjara dan sekali didiversi,’’ kata Kapolsek Wungu AKP Sudiyono kemarin (16/1).

Dugaan persetubuhan yang dilakukan pemuda pengangguran itu terjadi Minggu (13/1). Bermula ketika tersangka pulang bermain sekitar pukul 04.00. Lalu masuk ke rumah saudaranya lewat pintu belakang yang tidak terkunci. Meminta makan dan minum. Rumah itu merupakan tempat tinggal kedua bagi tersangka setelah jarang pulang karena sering dimarahi neneknya. Saat tersangka mengiris pentol di atas kulkas menggunakan pisau, dia melihat korban berbaring di ruang kamar tengah dalam kondisi terjaga. ‘’Dari sana, timbul niatan menyetubuhi korban,’’ lanjut Sudiyono.

Tersangka lantas membawa korban ke kamar yang dikhususkan untuknya. Karena ada dua anggota keluarga lain terlelap tidur di kamar tersebut. Di kamarnya, tersangka berusaha melepas pakaian korban. Korban yang masih duduk di bangku SD itu sempat meronta. Tetapi, tersangka mengancam dengan mengacungkan golok. Meminta diam bila tidak ingin dibunuh. Korban pun terisak pasrah disetubuhi tersangka dengan tato di lengan kirinya tersebut. Belum tuntas melampiaskan hasratnya, aksi bejatnya kepergok saudara yang memanggil korban lantaran tak ada di kamarnya. ‘’Spontan tersangka menghentikan aksinya, bergegas berpakaian dan kabur,’’ urainya.

Perbuatan tak senonoh itu langsung dilaporkan ke Polsek Wungu. Hanya butuh 12 jam bagi polisi untuk mengamankan tersangka. Dia dibekuk di salah satu warung internet (warnet) di Kota Madiun. Pemuda tidak tamat SD itu mengakui segala perbuatannya di hadapan penyidik. Perbuatannya memerkosa anak di bawah umur itu diakuinya tebersit begitu saja. ‘’Tersangka tidak mabuk. Tapi kurang tahu, apakah (karena) sering menonton video porno,’’ beber mantan kasat Sabhara Polres Madiun tersebut.

Polisi turut mengamankan pakaian tersangka dan korban sebagai barang bukti (BB). Juga, bantal dan tikar sebagai alas persetubuhan. Termasuk senjata tajam (sajam) pisau dan golok yang digunakan untuk mengancam. Pihaknya bekerja sama dengan unit perlindungan perempuan dan anak (PPA) satreskrim serta pemkab untuk melakukan pendampingan terhadap korban. ‘’Psikologis korban harus dipulihkan,’’ ucap kapolsek. (cor/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here