Replika Binatang dari Kayu Karya Yusuf Wibisono Rambah Eropa

267

Langkah gambling kadang menjadi pintu kesuksesan dalam dunia wirausaha. Itu pula yang dilakukan Yusuf Wibisono. Berawal dari sopir truk, pria itu kini sukses menjadi pengusaha kerajinan kayu jati.

————–

REPLIKA seekor dinosaurus dengan mulut menganga memperlihatkan gigi-gigi runcingnya itu nyaris persis dengan binatang serupa yang ada di film-film. Tiruan hewan purba dari bahan kayu itu tampak menjulang di antara sejumlah pekerja yang sibuk beraktivitas di belakang rumah Yusuf Wibisono.  ‘’Saya memulai usaha seperti ini sejak 2007,’’ kata Yusuf.

Dari usaha itu, warga Dusun Sidowayah, Desa Jenggrik, Kedunggalar, ini mampu meraup omzet hingga puluhan juta rupiah per bulan. Pembelinya tersebar di berbagai kota seperti Solo, Jogja, Jepara, dan Bali. ‘’Ada juga eksporter yang sudah langganan. Katanya dikirim ke Australia, Amerika, dan Eropa,’’ ungkapnya.

Ayah dua anak ini tidak mengira usaha kerajinan yang ditekuninya membuahkan hasil manis. Hal tersebut mengingat latar belakang dirinya yang sama sekali tidak mengenal pendidikan pertukangan. ‘’Setelah lulus SMK saya jadi sopir truk,’’ ujarnya.

Sesaat sebelum menggeluti dunia kerajinan, Yusuf sempat beberapa kali mendapat orderan mengangkut kayu jati dari hutan. Lambat laun, dia berniat membuat kerajinan. Limbah-limbah jati yang kerap tertangkap matanya lantas diolah menjadi barang seni. ‘’Belajarnya lihat-lihat dan tanya-tanya ke yang sudah bisa,’’ sebutnya.

Tekad Yusuf berwirausaha sempat goyah. Berbagai jenis barang kerajinan yang berhasil dibuat tak laku. Jalan rezeki Yusuf mulai terbuka akhir 2009 silam. Salah seorang pemesan minta dibuatkan 50 kursi dari akar jati. ‘’Mintanya cepat, seminggu harus jadi. Saya iyakan saja, mumpung ada pesanan. Alhamdulillah bisa. Tapi, sebelum itu ada yang minta dibuatkan pohon Natal dari limbah kayu jati,’’ kenangnya.

Pucuk dicinta ulam tiba. Tidak lama berselang, seorang eksporter dari Solo kepincut dengan hasil usahanya. Bermula dari kursi, Yusuf disodori desain replika binatang dan diminta membuatnya dari kayu. ‘’Yang paling penting itu perbandingan ukurannya. Awal-awal dulu juga sering mengurangi atau menambah tempelan kayu,’’ ujarnya. ***(deni kurniawan/isd/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here