Relokasi Pasar Legi Tak Direkomendasi Kejari

161

PONOROGO – Mimpi relokasi Pasar Legi yang didengungkan 24 Desember semakin berat. Selain ditolak pedagang, tak masuk di akal Tim Pengawal dan Pengaman Pemerintah dan Pembangunan Daerah (TP4D).

Korps Adhyaksa tidak memberi rekomendasi relokasi sehari sebelum hari raya Natal. Alasannya, lebih pada pertimbangan progres pekerjaan yang terbukti belum tuntas sampai kini. Bisa membahayakan ribuan pedagang yang dipaksa boyongan. ‘’Kami tidak merekomendasikan (relokasi pada 24 Desember, Red),’’ kata Ketua TP4D Kejari Ponorogo Kundrat Mantolas kemarin (18/12).

Terakhir, Kundrat bertemu disperdakum, PT Bumi Lindung, dan konsultan pengawas pada Minggu lalu (16/12). Dalam pertemuan hingga pukul 22.00 itu, dipaparkan progres terakhir pembangunan pasar sementara. Rupanya, belum menyentuh persentase 90 persen seperti yang diutarakan Kepala Disperdakum Addin Andanawarih. Melainkan, baru 65,14 persen. ‘’Itu meliputi pekerjaan struktur bawah, termasuk rangka baja dan rabat beton,’’ ujarnya.

Perseroan dari Trenggalek itu juga memaparkan pemasangan atap baru di los 1. Belum menyentuh los 2, 3, dan 4. Pekerjaan atap di tiga los itu menambah daftar tahap pekerjaan yang belum dituntaskan. Selain drainase, pavingisasi, dan instalasi listrik.  Padahal, megaproyek ini dijadwalkan provisional hand over (PHO) atau serah terima pekerjaan pada 29 Desember. ‘’Kami harapkan selesai sebelum 29 Desember. Agar tanggung jawab relokasi yang diemban disperdakum tidak terganggu,’’ tuturnya.

Pekerjaan yang belum tuntas itu, kata Kundrat, menjadi alasan utama mengapa pihaknya tidak memberi rekomendasi relokasi pada 24 Desember. Kondisi pasar sementara saat ini masih belum layak digunakan sebagai tempat bertransaksi ribuan pedagang dan pembeli. Pengerjaan atap dan instalasi listrik bisa membahayakan ribuan orang yang beraktivitas sekaligus di pasar sementara. ‘’Kalau ada kecelakaan, menjadi tanggung jawab siapa nanti. Karena itu kami tidak memberi rekomendasi,’’ tegas Kundrat.

Kundrat pun khawatir relokasi yang terburu-buru dapat mengganggu kualitas pekerjaan senilai Rp 6,8 miliar tersebut. Salah satunya, pekerjaan rabat beton yang baru tuntas dua pekan lalu. Seharusnya, ada jeda waktu 21 hari supaya rabat beton yang dikerjakan pelaksana dalam kondisi kuat. ‘’Kalau tidak, bisa rusak,’’ sebutnya.

Kundrat menyadari betul mepetnya waktu yang tersisa bagi PT Bumi Lindung. Kendati musim penghujan belum sepenuhnya intens mengguyur kabupaten ini. Kini, TP4D tinggal melihat sejauh mana komitmen penyelesaian proyek yang telah dijanjikan tersebut. Pekan lalu, kedua belah pihak mengutarakan berbagai langkah yang akan diambil untuk mempercepat penyelesaian pasar sementara. ‘’Saat kontrak berakhir, pekerjaan harus seratus persen,’’ tegasnya.

Kemarin disperdakum dan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) yang tergabung dalam tim relokasi tiga pasar menggelar rapat tertutup. Menyusul permintaan pedagang yang tak ingin relokasi sebelum Natal mendatang (25/12). Kepolisian turut dilibatkan. Kepala Disperdakum Addin Andanawarih menjelaskan, rapat memutuskan relokasi dilaksanakan 30 Desember—2 Januari 2019. ‘’Pedagang diberi kesempatan relokasi secara bertahap ke pasar sementara sampai 2 Januari,’’ ujarnya.

Mengenai progres pekerjaan pasar sementara, Addin masih kekeh bila progresnya sudah menyentuh 90 persen. Adapun detail pekerjaan tersisa, sama seperti yang diungkapkan Kundrat. Bobot terberat pada penyelesaian atap di tiga los. ‘’Tim termasuk pengawas terus monitoring setiap hari di lokasi pembangunan pasar sementara. Bagian bawah, termasuk kelengkapan seperti musala dan kamar mandi, sudah semua kok,’’ klaim Addin. (naz/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here