Rekanan Proyek ATP Ngrambe Tidak Profesional

432

NGAWI – Rekanan proyek pembangunan Agro Techno Park (ATP) Ngrambe, Ngawi, dituding tidak profesional. Sebab, enggan menanggapi komplain atas hasil kerjanya. ‘’Kurang responsif terhadap lingkungan atau pekerjaannya,’’ kata Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pangan dan Perikanan Ngrambe Yosef Danni Kurniawan, Kamis (26/7).

Yosef beberapa kali koordinasi lisan melalui telepon maupun pesan singkat dengan rekanan. Dia juga sering menyampaikan kondisi terkini ATP melalui pejabat pelaksana teknis kegiatan (PPTK). Pun laporan resmi kepada pimpinannya di dinas ketahanan pangan dan perikanan (DKPP) dengan tembusan ke beberapa pihak. ‘’Tapi hanya dua dari lima direspons dengan memperbaiki taman depan dan penguatan pagar,’’ ungkapnya.

Dia menambahkan, setelah proyek senilai sekitar Rp 6,67 miliar itu selesai akhir 2017 lalu, seharusnya saat ini masih dalam masa pemeliharaan. Artinya, masih tanggung jawab pelaksana proyek. Sehingga, jika terjadi kerusakan atau kekurangan, pihak ketiga wajib memperbaiki atau melengkapinya. ‘’Kami sudah temukan sejumlah fakta terkait hal itu (kekurangan dan kerusakan, Red),’’ terangnya.

Fakta itu antara lain fisik bangunan ATP kurang sempurna. Misalnya rangka besi yang terlihat pada cor kolom pathway dan tangga. Juga ditemukan besi menggantung serta tidak bertumpu pada cor dasar sightseeing. Pun conwood yang terlepas dan besi berkarat. ‘’Hanya sebagian yang diperbaiki. Makanya kami minta pihak ketiga segera memperbaiki semua,’’ pintanya.

Fakta yang lain kondisi tanaman di taman. Ada beberapa jenis tanaman tidak sesuai kontrak. Yosef menilai pihak ketiga tidak serius menanggapi komplain atas taman yang rusak dan tidak bisa dinikmati pengunjung. ‘’Belum lagi lampu LED yang sudah byarpet dan sampai sekarang belum ditangani,’’ sebutnya.

Hingga akhir Juni lalu, imbuh Yosef, ada sejumlah pekerjaan yang belum ditangani pihak ketiga. Mulai perbaikan taman bawah dan belakang, perbaikan sightseeing, pemasangan pipa pembuangan air di tandon kafe, dan sarana yang kurang lainnya. Jika dibiarkan, berpotensi menimbulkan kerugian negara. ‘’Karena masa pemeliharaan segera habis, siapa yang akan bertanggung jawab nanti,’’ keluhnya.

Karena itu, Yosef berharap rekanan segera melakukan tindakan. Jumlah bunga harus disesuaikan pengadaan. Misalnya bunga geranium 505 batang yang belum didatangkan. Begitu juga yang mati agar segera diganti. Serta pekerjaan yang kurang lainnya. ‘’Itu yang seharusnya dilakukan. Normatif pengadaan barang dan jasa. Saya akan kawal terus agar tak ada kerugian negara,’’ tegasnya.

Sebelumnya, DPRD telah memberi amanah kepada pengelola ATP agar tegas terhadap rekanan. Ketua Komisi II DPRD Ngawi Khoirul Anam sempat meminta dinas terkait memperingatkan rekanan pelaksana agar tidak melalaikan pemeliharaan seperti yang tertuang dalam kontrak perjanjian kerja.

Apalagi saat ini ATP menjadi buah bibir wisatawan domestik baik dalam maupun luar Ngawi. Dia khawatir, jika suara positif tentang keindahan ATP yang dibangun dengan anggaran kakap itu rusak lantaran minimnya pemeliharaan pasca dibangun tersebut. (tif/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here