Ngawi

Regenerasi Milenial

SIAPA sih sebenarnya generasi milenial itu? Sudah banyak artikel yang mengupas tema tersebut. Namun masih banyak yang salah memahami generasi milenial. Bahkan tiba-tiba banyak politikus senior mengubah penampilan. Mendadak sok milenial di media sosial. Yang dulunya senang mengenakan jas dan baju safari, kini mengenakan t-shirt. Jaketnya juga beli di distro-distro anak muda. Ngomongnya dibuat segaul mungkin. Alih-alih mendapat simpati, sebagian politikus justru semakin jauh dari kalangan milenial. Sebab, hanya pakaiannya saja yang menjadi milenial. Cara berpikirnya tidak berubah sama sekali.

Generasi milenial juga disebut generasi Y. Mereka lahir di atas 1980 hingga 1994.  Disebut milenial karena mereka memasuki usia dewasa pada millennium baru (2000-an). Tahun 2019 ini,  generasi milenial berusia 22-35 tahun. Generasi ini merasa dirinya istimewa dan bisa menjadi apa saja. Mereka cenderung optimistis dan percaya diri.

Jumlah generasi ini di Indonesia mencapai 90 juta atau sekitar 40 persen dari jumlah penduduk. Ini merupakan keuntungan bagi Indonesia. Kini kita punya penduduk dengan usia produktif yang melimpah ruah. Di sisi lain, persaingan di antara generasi milenial begitu ketat di sektor formal. Kalau hanya mengandalkan pekerjaan di sektor formal, akan banyak anak muda menganggur di Indonesia. Belum lagi mereka harus bersaing dengan generasi pendahulunya, generasi X, yang saat ini menempati posisi strategis di segala bidang. Oleh karena itu, generasi ini harus mampu berkembang di sektor apa pun. Menjadi entrepreneur misalnya.

Penemu teori generasi Strauss-Howe, yaitu William Strauss dan Neil Howe dalam sebuah buku berjudul Millennials Rising, menyebut selain mengalami transisi dari era analog ke digital, generasi milenial hidup di zaman ketika nilai-nilai persamaan dan hak asasi manusia semakin matang. Hal itulah yang membuat karakter mereka lebih demokratis dan liberal. Maka tidak heran bila muncul pergesekan dengan generasi-generasi sebelumnya.

Selama ini definisi milenial cenderung digebyah uyah. Pokoknya anak muda disebut milenial. Padahal anak-anak SMA dan mahasiswa semester awal saat ini tidak bisa disebut generasi milenial. Mereka  adalah generasi Z yang lahir pada 1995 hingga 2014. Generasi Z tumbuh di era internet. Sudah menikmati keajaiban teknologi digital. Mungkin mereka tidak pernah tahu kaset, video Betamax, atau VHS. Kalau dulu anak muda butuh effort dan jaringan untuk mendapat buku stensilan atau kaset video superdewasa, anak-anak generasi Z cukup berselancar di gawai. Mereka pasti tidak kenal buku cerita enny …. (sstt jangan diteruskan hehe). Atau jangan-jangan sekarang ada versi online-nya.

Mengapa generasi Z dihadirkan dalam acara Sharing Session with Dahlan Iskan yang bertema Tantangan Generasi Milenial? Tentu agar anak-anak muda di generasi ini bisa mengetahui bagaimana kakak-kakak mereka, generasi Y, bisa menaklukkan tantangan. Dengan begitu mereka bisa mengevaluasi kesalahan-kesalahan yang dilakukan generasi sebelumnya serta tidak terlalu asyik dengan dunia mereka sendiri.

Kritik terhadap generasi Z adalah mereka dinilai terlalu banyak menghabiskan waktu di depan gadget. Minim sosialisasi dan cenderung individualis. Meskipun pendapat tersebut juga banyak dibantah. Faktanya banyak juga generasi X maupun Y yang keranjingan media sosial.

Kini sudah lahir generasi baru yakni generasi Alpha. Tapi, mengapa istilah milenial tetap saja populer meskipun sudah ada dua generasi baru? Ya, inilah tahun politik. Seluruh partai politik, pasangan calon presiden dan wakil presiden, serta calon anggota legislatif, berlomba-lomba menggaet generasi ini dengan segala cara. Meskipun sebagian besar salah sasaran atau salah cara. (*/penulis adalah wartawan Jawa Pos)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close