Realisasi PMDN Lampaui Target, Perdagangan Masih Dominan

55

NGAWI – Tahun politik sepertinya tidak memengaruhi minat investor menanamkan modalnya di Bumi Orek-Orek. Catatan pemkab setempat, realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) nonfasilitas Ngawi tahun lalu bahkan mampu melebihi target. ‘’Animo untuk menanamkan modal di Ngawi terbukti masih besar,’’ kata Kabid Perizinan Usaha Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Budiono kemarin (6/1).

Budiono memerinci, target investasi yang ditetapkan pemkab pada 2018 lalu sebesar Rp 200 miliar. Sedangkan realisasinya mencapai Rp 201,2 miliar. Pun, hal itu mempertebal optimisme DPMPTSP capaian investasi tahun ini bakal semakin menggelembung. ‘’Kami yakin nilai investasi akan semakin tumbuh,’’ ujarnya.

Realisasi PMDN nonfasilitas Ngawi tersebut terbagi dalam 18 bidang usaha. Di antaranya, pertanian, peternakan, perikanan, perdagangan, konstruksi bangunan sipil, pertambangan, gedung perkantoran dan supermarket, serta hiburan atau rekreasi. Sedangkan unit usahanya sebanyak 815 dengan serapan tenaga kerja mencapai 2.433 orang.

Nilai investasi terbesar di bidang usaha perdagangan, yakni Rp 80,6 miliar. Bidang usaha konstruksi bangunan sipil menempati urutan kedua dengan nominal Rp 42,9 miliar. Di sisi lain, ada bidang usaha dengan investasi nol. Yakni, pertambangan dan galian golongan C serta gedung perkantoran, supermarket, dan mal (selengkapnya lihat grafis).

Budiono menjelaskan, investasi bidang usaha perdagangan mayoritas berasal dari warga lokal Ngawi. Ya, selama 2018 lalu memang banyak warga setempat yang mengajukan surat izin usaha perdagangan (SIUP) sebagai kelengkapan usahanya. Rata-rata modal yang akan ditanamkan mencapai Rp 50 juta. ‘’Unit usahanya tercatat sebanyak 365 unit dengan menyerap 522 tenaga kerja,’’ sebutnya.

Meski begitu, peningkatan nilai investasi bidang usaha perdagangan dari tahun ke tahun tidak terlalu signifikan. Berbeda dengan konstruksi bangunan sipil yang progresnya terbilang fantastis. ‘’Memang sekarang usaha properti sudah semakin ramai,’’ tuturnya.

Kenapa ada bidang usaha yang nilai investasinya nol? Budiono menyebut, untuk pertambangan dan galian golongan C lantaran kini kewenangannya berada di Pemprov Jatim. Sedangkan perkantoran dan supermarket karena izin usahanya terimbas kebijakan moratorium. ‘’Sampai kapannya (moratorium, Red), kami belum tahu,’’ ucapnya.

Budiono memastikan target investasi tahun ini ada kenaikan. Namun, dia belum bisa menyebutkan besaran kenaikannya. ‘’Masih akan dihitung ulang. Nanti kalau sudah diperoleh angkanya pasti kami sampaikan,’’ janjinya. (tif/c1/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here