Ratusan Warga Idap Gangguan Jiwa, Terbanyak di Kecamatan Taman

48

MADIUN – Di Kota Madiun masih banyak orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Setidaknya ada 277 ODGJ berat. Mereka rutin dipantau kader kesehatan jiwa (KKJ) dan tenaga kesehatan (nakes). ‘’Sebulan sekali dikunjungi dan dilaporkan perkembangannya,’’ kata Kasi Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Madiun Tri Hari Wahyuningtyas kemarin (18/7).

Kecamatan Taman terbanyak dengan 113 orang. Disusul Manguharjo 87 orang dan Kartoharjo 77 orang. ‘’Riset Kesehatan Dasar 2019 dari Kementerian Kesehatan prevelensinya 337 target ODGJ berat di Kota Madiun. Hingga Juni lalu kami menemukan 277, sisanya belum ditemukan,’’ ujarnya.

Penyebabnya beragam. Di antaranya faktor ekonomi, keturunan, sosial seperti bullying, dan lain-lain. Untuk menanganinya, dinkes telah membentuk tim pelaksana kesehatan jiwa masyarakat (TPKJM) Maret lalu. ‘’Kami sudah membentuk pemberdayaan masyarakat, mengaktifkan posyandu jiwa di puskesmas, dan itu sudah beroperasi di beberapa kelurahan. Yakni, Puskesmas Tawangrejo, Manguharjo, dan Banjarejo,’’ jelasnya.

Output posyandu jiwa itu untuk menekan angka kekambuhan. ‘’Selain itu, kami ingin ODGJ bisa mandiri dan produktif. Walaupun masih jauh, tapi kami arahnya ke sana,’’ tuturnya.

Dia menjelaskan, ODGJ sebenarnya sama seperti orang normal. Namun, terganggu mentalnya. ‘’Mereka harus rutin minum obat seperti penyakit-penyakit kronis lainnya untuk menstabilkan hormon mereka,’’ paparnya.

Hingga kini, lanjut dia, kesadaran masyarakat tentang ODGJ belum bagus. ‘’Kebanyakan keluarga penderita menolak ketika kami akan menindaklanjuti,’’ jelasnya.

Parahnya, pada 2017 dan 2018 lalu ditemukan enam ODGJ dipasung di rumah oleh keluarganya. ‘’Terpasung dalam artian lain, seperti dibatasi aktivitasnya dan tidak boleh keluar ruangan. Sehingga, kami langsung merujuknya ke rumah sakit jiwa,’’ ungkapnya.

Penanganan melalui puskesmas kecamatan berupa pemantauan minum obat dan kunjungan rutin. Ketika menengarai ODGJ baru langsung diantarkan ke puskesmas untuk dirujuk spesialis kesehatan jiwa dan didiagnosis. ‘’Jika positif dapat penanganan dan pemantauan,’’ ujarnya.

Meski sudah ditangani, beberapa bulan kemudian masih ada kemungkinan relaps (kambuh). Itu bisa terjadi jika tidak ada yang memantau minum obat dan merasa sudah sehat. ‘‘Karena ODGJ sangat sensitif, kadang relaps-nya bisa karena selentingan, omongan dari masyarakat,’’ bebernya. (mgd/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here