Ratusan Tahun Masjid Jami’ Baiturrahman Ngronggi Kokoh Berdiri

44

Masjid Jami’ Baiturrahman Ngronggi satu di antara yang tertua di Ngawi. Bangunannya tetap kokoh sejak 1875. Takmir selalu berganti, tempat ibadah ini tetap terawat.

———————-

DENI KURNIAWAN, Ngawi

SEJUMLAH jamaah bersantai di teras Masjid Jami’ Baiturrahman Ngronggi usai salat Duhur. Ada yang selonjoran di teras, beberapa berbincang di ambang pintu. Salah seorang di antaranya mengarahkan ujung telunjuknya ke arah ukiran gawang pintu bertulisan kaligrafi arab yang memanjang. ‘’Ukiran itu sudah menjadi bagian masjid yang didirikan 1875,’’ ungkap Nurhadi Sholeh, takmir masjid.

Berusia ratusan tahun, membuat  tempat ibadah di Desa Grudo, Ngawi, ini sebagai salah satu masjid tertua di Bumi Orek-Orek. Bahkan, empat tahun lebih awal didirikan dari Masjid Agung Baiturrahman di kompleks Alun-Alun Merdeka. Bangunan yang kala itu lantainya dari ubin dengan dinding papan kayu ini juga dijadikan basis syiar ajaran agama Islam. Ada dua bangunan di sekitaran masjid difungsikan pondok pesantren (ponpes). ‘’Yang menginisiasi pembangunan masjid KH. Nguzair,’’ ujarnya.

Sholeh sempat membaca catatan takmir pendahulunya tentang keberlangsungan dua ponpes itu. Ayat-ayat suci Alquran tidak lagi terlantun di sana karena ditinggal pergi para santri. Kondisinya semakin sepi setelah pimpinan ponpes tutup usia. Pesantren lantas berubah menjadi sekolah rakyat Islam (SRI) karena bermunculan lembaga yang baru. Sebelum akhirnya berganti menjadi madrasah ibtidaiyah (MI). Tali sambung pendidikan berbasis keagamaan itu tidak putus hingga kini. ‘’Sekarang dikenal sebagai MIN Ngronggi,’’ ucap Sholeh.

Bertahannya ponpes hingga menjadi madrasah tidak lepas dari perjuangan para takmir Masjid Jami’ Baiturrahman. Mereka berjuang meneruskan peninggalan Nguzair. Masjid yang kini dijadikan tempat mengaji para santri juga dirawat dengan baik. Berkali-kali direnovasi dengan tetap mempertahankan desain konstruksi bawaannya. Seperti fondasi, atap, hingga ukiran kayu jati di dinding dan pintu sekat antara jamaah perempuan dengan pria. ‘’Paling sering dicat ulang,’’ ujarnya.

Tidak hanya desain, perabotan di dalamnya masih utuh. Seperti mimbar tempat katib berkhutbah. Juga sejumlah Alquran dan tafsir yang menumpuk di salah satu sudut ruangan masjid. Kitab sampul berkelir cokelat itu terlihat usang. ‘’Banyak yang rusak karena banjir 1997,’’ ungkap Sholeh.

Sholeh duduk bersila dengan mengambil salah satu kitab. Dibukanya pelan halaman demi halaman lembar kertas yang berwarna cokelat kekuning-kuningan itu. Deretan huruf Hijaiyah hitam memudar bercampur noktah merah. ‘’Tidak banyak yang bisa terselamatkan,’’ sesalnya menghela nafas panjang kala menutup kitab itu. ***(cor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here