Ponorogo

Ratusan Santri Keracunan Usai Menyantap Ikan Tongkol Lauk Makan Malam

PONOROGO, Radar Ponorogo – Kepanikan sempat melanda Ponpes Darul Fikri Ponorogo, Minggu malam (17/11). Itu terjadi setelah ratusan santri diduga mengalami keracunan usai menyantap ikan tongkol. Sedikitnya 124 santri harus dilarikan ke Puskesmas Ngrandu, Puskesmas Kauman, RSUD dr Harjono, dan RSI Aisyiyah Ponorogo. ‘’Teman saya mulai sakit itu setelah salat Isya. Wajahnya memerah dan mengeluh pusing,’’ kata Desiana Purnama Sari, salah seorang santri, Senin (18/11).

Desiana mengatakan, para santri menyantap ikan tongkol usai salat Magrib. Usai makan, satu per satu mengeluh mengalami gajala tak wajar. Mulai wajah memerah, beberapa bagian tubuh gatal, hingga rasa mual dan muntah. ‘’Alhamdulillah kalau saya nggak apa-apa walaupun ikut makan tongkol,’’ ucap santri asal Wonogiri itu ditemui usai menjenguk temannya yang dirawat di RSUD dr Harjono.

Marlan, kepala MA Darul Fikri, membenarkan bahwa ratusan santri mengalami gangguan kesehatan usai menyantap hidangan makan malam. Pihak pondok pun berinisiatif membawa mereka ke Puskesmas Ngrandu dan Kauman. ‘’Sampai jam 23.00 masih ada. Akhirnya, beberapa di antaranya dibawa ke RSUD. Setelah dicek, sebagian harus rawat inap,’’ terangnya.

Dini hari hingga kemarin pagi, lanjut Marlan, 17 santri mengeluhkan gejala serupa. Mereka kemudian dibawa ke RS Aisyiyah dan Puskesmas Ngrandu. ‘’Kami konfirmasi dapur umum, tongkolnya agak hitam. Nanti insya Allah dievaluasi. Pihak yayasan yang punya wewenang perbaikan ke depannya,’’ ujar Marlan.

Binatun, salah seorang juru masak dapur umum Ponpes Darul Fikri, tidak menduga terjadi keracunan masal. Sebab, dia sendiri ikut memakan tongkol dan tidak mengalami gejala apa pun. Namun, diakuinya hari itu dapur umum belanja bahan makanan dari pedagang yang bukan langganan. ‘’Pedagang langganan kami nggak jualan,’’ kata Binatun.

Dia menerangkan, usai belanja, ikan tongkol dan bahan-bahan lainnya langsung dimasak. Menu pun siap disantap setelah azan Magrib. Pendek kata, perempuan parobaya itu menegaskan bahwa masakan yang diolah masih fresh.

Hari itu, kata Binatun, pihak pondok memesan ikan tongkol untuk kebutuhan sekitar 160 santri. Pun, ketika tongkol diterima, dia tidak menaruh curiga. ‘’Beli di pasar. Saya makan habis dua tidak apa-apa,’’ ucapnya. (dil/c1/isd)

Polisi Periksa Lima Orang dari Pondok

BERI PENJELASAN: Kasat Reskrim Ponorogo AKP Maryoko ketika dimintai konfirmasi di ruangannya.

POLISI bergerak cepat. Korps baju cokelat langsung melakukan penyelidikan beberapa saat setelah adanya laporan dugaan keracunan yang menimpa ratusan santri Ponpes Darul Fikri, Bringin, Kauman, Minggu malam (17/11.) Sedikitnya lima orang dari ponpes itu telah dimintai keterangan.

‘’Beberapa santri dan yang di dapur umum. Kami juga mengambil sampel makanan berupa nasi, sambal, dan tongkol yang dijadikan menu makan malam,’’ kata Kasat Reskrim Polres Ponorogo AKP Maryoko kemarin (18/11).

Penyidik, lanjut dia, berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Ponorogo untuk melakukan uji laboratorium. ‘’Penjual (ikan tongkol) hari ini (kemarin, Red) sudah kami lakukan pemeriksaan awal. Ikan tongkol dibeli dari Pasar Sawoo,’’ bebernya.

Direktur RSUD Harjono dr Made Jeren menambahkan, Minggu malam (17/11) rentang pukul 22.00-23.00 pihaknya menerima sedikitnya 65 santri. Setelah dilakukan pemeriksaan, 40 di antaranya diperbolehkan kembali. Sisanya menjalani perawatan di Ruang Mawar dan Delima.

‘’Saat ini kondisinya relatif stabil. Sebagian masih pusing dan mual tapi tidak sampai muntah,’’ jelasnya. ‘’Beberapa pasien susulan dialihkan ke RS Aisyiyah supaya cepat penanganannya karena di sini terlalu banyak,’’ imbuh Made.

Dia menyebut, kondisi pasien semakin membaik. Pun diperkirakan hari ini sebagian sudah diperbolehkan pulang. Sementara, hasil diagnosis rumah sakit, para santri itu mengalami keracunan. ‘’Kemungkinan karena tongkol itu,’’ sebutnya. (dil/c1/isd) 

Mengandung Zat Formalin?

MENGAPA ratusan santri Ponpes Darul Fikri sampai keracunan? Direktur Akafarma Ponorogo Ulfa Nur Maa’idah menyebut ada dua kemungkinan. Yakni, makanan sudah basi atau zat formalin dalam menu yang disantap santri.  ‘’Bisa jadi tongkolnya memang tidak layak dikonsumsi,’’ kata Ulfa Senin (18/11).

Dia menjelaskan, gejala yang ditunjukkan apabila tubuh terkontaminasi formalin antara lain sukar menelan, mual, dan sakit perut akut disertai muntah-muntah. Selain itu, timbulnya depresi susunan saraf dan gangguan peredaran darah. ‘’Tapi, untuk mengetahui penyebab pastinya (keracunan) perlu dilakukan uji lab,’’ ujarnya.

Ulfa menuturkan, pengolahan ikan tongkol yang benar adalah kadar air maksimal 10 persen saat pengeringan. Namun, ditengarai sejumlah penjual nakal sengaja menggunakan zat formalin agar ikan cepat kering. ‘’Sebelum dimasukkan besek diberi formalin atau dicelupkan dulu baru dikeringkan. Ada yang cuma disemprotkan dan dipercikkan,’’ bebernya.

Menurut dia, cara mendeteksi ikan tongkol mengandung formalin atau tidak cukup mudah. Tusuk gigi direndam minimal setengah jam, lalu ditusukkan ke daging tongkol. Jika warnanya berubah merah muda hampir bisa dipastikan mengandung formalin. ‘’Memang kalau dilihat secara kasatmata ikan berformalin itu susah (dibedakan),’’ tutur Ulfa.

Zat formalin dalam ikan tongkol yang telah digoreng, kata dia, berubah menjadi zat lainnya yang memicu keracunan. Karena itu, dia berharap pemkab melakukan pengawasan peredaran keluar-masuk komoditas ikan di Ponorogo. ‘’Kalau perlu ada uji mutu di pasar,’’ katanya. (dil/c1/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close