Ratusan PKL Merusak View Telaga Pasir

297
DCIM100MEDIADJI_0143.JPG

Sarangan sekarang tidak sedap dipandang. View telaga banyak tertutup pedagang kaki lima (PKL). Akibatnya, pejalan kaki tak leluasa. Kondisi semakin runyam ketika pengendara sepeda motor dan pengemudi mobil leluasa masuk. Hari ini, 12 Oktober, adalah momen spesial. Magetan berulang tahun. Seharusnya, ada kebijakan baru dari bupati yang bisa menyelamatkan Telaga Sarangan. Aturan yang sudah dituangkan pada peraturan daerah (perda) jangan menjadi macan ompong.

SIAPA tak mengenal objek wisata Telaga Sarangan. Telaga yang terletak di Kelurahan Sarangan, Kecamatan Plaosan, itu memang menjadi landmark Magetan. Tak hanya wisatawan domestik yang berkunjung, tapi juga para bule. Sayang, para pengunjung yang ingin menikmati view telaga yang hijau itu justru terhalangi pandangannya.

Ratusan pedagang kaki lima (PKL) mendirikan tenda dan bangunan tepat di pinggir telaga. Alhasil, pemandangan para PKL yang bisa dinikmati. Bangunannya ala kadarnya. Semipermanen. Lantainya digelari tikar. Tak sedikit penjual yang menawarkan sajian sate kelinci dan ayam untuk dimakan di dekat telaga. Tak setiap hari buka. Jika tutup, debu bakal menutupi kios para PKL.

Menjamurnya PKL itu tak cepat ditangkap oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Magetan. Hingga akhirnya mereka kewalahan mengatasi banyaknya PKL yang mendirikan tenda di pinggir telaga pasir, nama lain Telaga Sarangan. Terhitung ada sekitar 300 PKL yang mendiami sekitaran telaga yang berada pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut itu. Bisa dibayangkan padatnya pinggiran telaga saat hari libur. Bukan karena pengunjung, melainkan keberadaan para PKL. ’’PKL ini butuh ditata ulang,’’ kata Kepala Disparbud Magetan Bambang Setyawan.

Bambang sadar, keberadaan PKL itu memang salah. Mereka membelakangi telaga tersebut. Harus dipindahkan memang. Namun, apa daya, dia belum punya solusi untuk mengatasinya. Alhasil, pihaknya diam saja melihat para PKL memadati pinggiran telaga tersebut. Bisa saja dia menggusur para PKL itu, namun dia memilih untuk tidak melalukannya. Manusiawi katanya. Urusan perut warga akan terdampak jika penggusuran itu dilakukan. ’’Menyuruh pergi itu gampang, tapi harus ada solusi. Harus ada relokasi,’’ ujarnya.

Bambang berdalih, selama ini bukannya dia tidak berusaha mencari solusi. Namun, tengah mencari lokasi yang pas untuk memindah para PKL tersebut. Sehingga, tidak mengganggu rezeki para PKL yang sudah puluhan tahun berjualan di sana. Namun, harus tetap menjaga keindahan telaga itu. Tak banyak lokasi yang menjadi bidikan pemkab untuk memindah para PKL. Aset pemkab terbatas. Hanya ada lahan milik Perhutani yang tersisa. Tak bisa sembarangan digunakan. ’’Kami menunggu MoU (memorandum of understanding, Red) bupati yang baru dengan Perhutani,’’ jelasnya.

Komunikasi intens dilakukan dengan KPH Lawu. Rencananya, lahan tepat di barat telaga itu akan dialihfungsikan untuk menempatkan para PKL. Hanya, lahan di sana konturnya miring dan berbentuk terasering. Butuh perencanaan yang matang. Estetika harus tetap diutamakan, karena lokasinya berada di tempat pariwisata. Paling cepat, tahun depan bisa terlaksana. Jika tidak, bisa dua tahun lagi, atau tetap akan semrawut. Karena itulah, pihaknya diam dengan keberadaan PKL. Selama mereka tidak membuka lapak di jalan, tidak masalah. ’’Butuh tahapan rapat dan pertemuan. Tapi, kami sudah ada action, kok,’’ ungkapnya.

Lagi pula, bangunan PKL di sana termasuk semipermanen. Sehingga, kapan pun dibongkar, tidak membutuhkan waktu lama untuk membersihkan bangunannya. Namun, berapa hektare lahan yang dibutuhkan untuk merelokasi para PKL itu, Bambang masih bimbang. Berapa luas lahan yang diizinkan Perhutani juga belum pasti. Sehingga, dia hanya akan ngikut apa kata Perhutani nanti. ‘’Lahan yang boleh digunakan, itu yang akan kami maksimalkan,’’ tuturnya.

Bambang mengaku, menata Sarangan itu memang sulit. Karena sudah menjadi destinasi wisata yang padat pengunjung. Bukan karena pelaku usaha di wilayah Sarangan yang sulit ditata. Sehingga mereka beranjak pergi dari pinggiran telaga. Sarangan juga terbilang destinasi wisata yang sudah punya pamor. Lain cerita jika Sarangan merupakan wisata kecil yang baru berkembang. Maka, menatanya bukan hal yang sukar. ’’Sarangan itu mau dibiayai berapa pun tidak akan bisa sempurna,’’ paparnya.

Kendati demikian, Bambang tak patah arang. Dia sudah membuat program kegiatan tahun depan. Bakal ada jembatan di sekeliling telaga. Butuh waktu hingga dua tahun anggaran untuk bisa merampungkannya. Sebab, estimasi anggaran kasar Bambang untuk merealisasikan mimpi besar itu tidak kecil. Paling tidak duit sebesar Rp 5 miliar harus dikeluarkan dari kantong pemkab. ‘’Sedang kami usulkan, tergantung pimpinan mengiyakan apa tidak,’’ jelasnya.

Jembatan itu bakal berada tepat di atas air atau di dalam pagar telaga. Bambang yakin betul, pengembangan semacam itu masih belum dilakukan pengelola telaga di Indonesia. Jika terealisasi, maka Sarangan bakal menjadi yang pertama kali. Bisakah dia menjadi pionir? Untuk mengawalinya, jalan di sekeliling Sarangan sudah dipaving. Tahun ini menjadi tahun terakhir dan dipastikan sempurna. Anggaran sebesar Rp 2,23 miliar sudah dikucurkan pemkab. ’’Tahun ini selesai,’’ tegasnya. (bel/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here