Mejayan

Ratusan Jembatan Dibangun Tahun 70-an

MEJAYAN – Ratusan jembatan di Kabupaten Madiun sudah uzur. Namun, potensi terjadi kerusakan seperti Jembatan Bajulan, Saradan, yang berusia tiga dekade itu diprediksi tidak melebar ke jembatan lawas lainnya. Sebab, amblesnya plat injak sisi utara infrastruktur ruas jalan alternatif Madiun–Ngawi, itu karena kondisi force majeure banjir besar awal Maret lalu. ’’Kalau yang lainnya masih aman,’’ kata Kabid Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Madiun Heru Sulaksono kemarin (23/4).

Total ada 232 jembatan di kabupaten ini. Hampir semua infrastruktur itu dibangun di periode 1970-an hingga 1980-an. Karakteristik yang paling mencolok memiliki pilar penyangga pada bagian bawah tengah konstruksinya. Di era sekarang, konstruksi semacam itu sudah mulai ditinggalkan untuk pembangunan jembatan baru. Biasanya beberapa daerah juga menggantinya bersamaan proyek rehabilitasi jembatan. ’’Pilar-pilar itu menghambat aliran air ketika ada sampah yang tersangkut,’’ ujarnya.

Menurut Heru, ratusan jembatan kondisinya masih bagus dan layak dilalui kendaraan meski sudah uzur. Perkara potensi ambles seperti Jembatan Patimura –sebutan lain Jembatan Bajulan– bergantung karakteristik masing-masing aliran sungai yang mengalir di bawahnya. Bila debit airnya tinggi, tentu memengaruhi pilar atau ambutment di samping kanan-kirinya. Gerusan-gerusan itu mengakibatkan fondasi jembatan rentan keropos hingga merusak plat injak atau permukaan jembatan. ’’Rata-rata kejadian jembatan ambles karena ada masalah pada fondasinya,’’ katanya kepada Radar Caruban.

Kasus Jembatan Bajulan, lanjut dia, disebabkan debit banjir yang sangat besar hingga mencapai seribu meter kubik. Apalagi, alirannya tidak lancar akibat tersumbat sampah bambu yang tersangkut di pilar. Persoalannya, jembatan di perbatasan Mejayan dengan Saradan, itu memiliki tiga pilar. Arus air berpindah ke sisi utara dan menghantam ambutment-nya hingga mengikis fondasi. ’’Kalau debit air normal, jembatan ini tidak ada masalah,’’ ucapnya.

Heru mengatakan, peningkatan atau pemeliharaan hingga pembangunan jembatan yang baru rutin dilakukan setiap tahun. Namun, selain jumlahnya yang bergantung ketersediaan anggaran, pemilihan lokasi bergantung skala prioritas. Tahun lalu, ada tujuh paket pembangunan dengan biaya mencapai Rp 10 miliar. Namun, tahun ini berkurang lebih dari separo karena alokasinya minim. ’’Penanganan setiap tahun sebagai bentuk menjaga keamanan jembatan,’’ ujarnya. (cor/ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close