Ratusan Anggota Iseng Setia dengan Skuter

74

Bermula dari sekadar nongkrong, pencinta skuter di Bumi Orek-Orek berhimpun dalam satu wadah. Ikatan Scooter Ngawi (Iseng) namanya. Nyaris dua dekade berkumpul, berbagai daerah telah dikunjungi.

BAGI member Iseng, skuter seolah sudah menjadi pacar atau istri kedua. Meski varian baru sepeda motor semakin menjamur, mereka enggan berpaling. Pun, beramai-ramai touring ke berbagai daerah menjadi agenda wajib. Kendala yang terjadi di jalanan ibarat lem perekat keakraban. ‘’Awalnya dulu cuma nongkrong bareng-bareng di warung kopi,’’ kata Ketua Iseng Richa Adhika Kusuma Wijaya.

Kebiasaan bercanda bersama sembari nyeruput kopi itu berlangsung awet. Kentung –sapaan akrab Richa Adhika Kusuma Wijaya– mengingat rekan-rekan perkumpulannya baru sepakat memilih nama Iseng sebagai identitas komunitas pada pertengahan 2000. ‘’Kalau tidak salah, anggotanya dulu baru 15 orang,’’ kenangnya.

Warga Desa Kedungprahu, Padas, ini masih berseragam SMA saat nama Iseng disepakati. Dia enjoy saja nyangkruk dengan pencinta vespa lain yang datang dari berbagai kalangan. Sekarang, Iseng memiliki 200 lebih member. ‘’Kalau sudah ngumpul, tidak ada lagi perbedaaan tetek bengek. Semuanya sama,’’ ungkapnya.

Ratusan anggota itu dari berbagai kalangan. Mulai pelajar, mahasiswa, PNS, hingga penjual cilok. ‘’Campur aduk pokoknya. Polisi, tentara, juga ada,’’ sebutnya.

Para pencinta skuter yang bergabung dalam Iseng datang dari seantero Bumi Orek-Orek. Dari ujung barat sampai yang paling timur. Ada empat anak komunitas. Chapter-chapter tersebut ada dengan tujuan untuk mempermudah jaringan komunikasi komunitas. Pun, menimbang jarak jika hendak berkumpul. ‘’Kalau ada agenda touring ke mana gitu, baru kami berkumpul jadi satu,’’ terangnya.

Menahun terbentuk, anggota Iseng sudah menjelajah ke berbagai daerah. Di antaranya, Surabaya, Jogjakarta, Bandung, Banten, dan Lombok. Berbagai pengalaman menarik didapatkan dari sejumlah daerah tersebut. ‘’Banyak keseruannya. Yang jelas, pasti ada kendala seperti motor mogok,’’ ungkap pria 33 tahun itu.

Para anggota Iseng menyikapi kendala dengan sudut pandang yang lain. Saat ada rekan yang mengalami apes, kondisi tersebut malah dijadikan sebagai perekat hubungan sesama anggota. Berhenti bersama-sama, belum lanjut jalan kalau skuter yang ketiban apes itu belum bisa diajak melaju kembali. ‘’Saat di luar daerah, pasti ada juga dari komunitas lain sesama penggemar skuter yang menolong,’’ ungkapnya.

Selain kesenangan lantaran hobi tersalurkan, ada keuntungan lain yang bisa didapat anggota komunitas. Saban kali kongko, tema pembicaraan di dalam komunitas tidak hanya melulu soal mesin. Berbagai hal di luar itu juga kerap diperbincangkan. ‘’Karena itu, banyak juga anggota yang terbantu mendapat link untuk berwirausaha. Macem-macem pokoknya,’’ sebut Kentung.

Para anggota Iseng beberapa kali juga terlibat kegiatan sosial. Berpanas-panas menggalang dana kerap dilakukan bersama. ‘’Ya touring untuk bersenang-senang, ya mengadakan kegiatan sosial juga,’’ ujarnya. ***(isd/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here