Ratusan Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual

172

PONOROGO – Entah setan apa yang merasuki kepala Im, siang hari itu. Suasana rumah yang sepi dimanfaatkannya untuk berbuat tak senonoh terhadap Anggrek, keponakannya sendiri. Mirisnya, korban sasarannya itu baru berusia lima tahun. Keluarga langsung mengungsikannya ke luar kota untuk sementara waktu.

Jawa Pos Radar Ponorogo menghimpun data jumlah anak korban kekerasan seksual dari Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA) Ponorogo, medio Oktober. Rupanya, sudah sembilan kasus serupa terjadi sepanjang Januari-April. Sejak 2013, 196 anak menjadi korban sebagaimana Anggrek. ‘’Berapa persisnya tidak hafal. Tapi tahun ini ada kasus lain yang serupa,’’ tegas Kepala Dinsos PPPA Sumani, kemarin (6/12).

Sumani bungkam kala ditanya apakah jumlah anak korban kekerasan seksual menyerupai fenomena gunung es. Sebab, tidak banyak fakta yang terungkap di permukaan. Dia lantas menceritakan satu kasus lain yang terjadi di salah satu kecamatan. Sumani merahasiakan identitas pelaku, berikut alamatnya. Sebab, korbannya yang berusia 13 tahun sudah mulai sembuh dari trauma. ‘’Masih SMP, sempat berhubungan intim (dengan pelaku),’’ kata dia.

Penyembuhan trauma, diakui Sumani, tidak sebentar. Butuh waktu sebelum korban bersedia bersosialisasi kembali. Trauma akan menghinggapi sampai kapanpun. Kuncinya, tidak mengungkit memori buruk itu jika si korban sudah terlupa. Sumani menampik jika pemkab lalai. Dia menyebut jika dinsos PPPA sudah memberi trauma healing kepada para korban. ‘’Kami mendampingi korbannya sampai traumanya sembuh. Untuk proses hukumnya di kepolisian,’’ urai Sumani.

Kanit PPA Satreskrim Polres Ponorogo Ipda Gestik Ayuda mengamini jika kekerasan seksual terhadap anak yang menimpa Anggrek tak sekali sepanjang tahun ini. Tak lama sebelumnya, kepolisian mencokok pelaku asusila dari Wates, Jenangan. Dia mencabuli tetangganya sendiri yang baru 12 tahun. ‘’Sudah kami tahan. Untuk yang di Simo (aksi cabul Im), polisi tidak bisa berbuat apa-apa karena pihak korban merasa tidak dirugikan. Sudah selesai,’’ tegasnya.

Menurut Gestik, upaya hukum sudah coba dilakukan kepolisian menyikapi aksi cabul yang menimpa Anggrek. Namun, pihak korban keukeh enggan melanjutkan proses hukum. Mempertimbangkan psikologis korban. ‘’Kami sangat memahami itu karena banyak menangani kasus yang melibatkan anak,’’ jelas Gestik.

UU 35/2014 tentang Perlindungan Anak merupakan peraturan perundangan yang bersifat istimewa. Secara teori, aturan yang ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 2014 lalu itu memerintahkan penegakan diprioritaskan. Sayangnya, UU itu kini tak bisa ditegakkan. Sepadankah dengan derita korban yang masih belia itu?. ‘’UU Perlindungan Anak ini sifatnya khusus. Di KUHP ada yang mengatur tentang pencabulan. Tapi kalau korbannya anak, maka UU Perlindungan Anak yang didahulukan,’’ jelas Dekan Fakultas Hukum (FH) Universitas Merdeka (Unmer) Ponorogo Aries Isnandar.

Menurut Aries, UU Perlindungan Anak sudah sangat jelas mengatur berbagai ketentuan di dalamnya. Bahkan dia melihat, tidak ada pasal karet yang dapat berpotensi multitafsir. Apa yang perlu dilakukan oleh masyarakat dan penegak hukum sudah dijelaskan di sana. Termasuk ancaman sanksi untuk memberi efek jera terhadap para predator anak. Berbeda dengan UU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Pun, lanjut Aries, tidak ada kata damai dalam kamus UU pidana. ‘’Semuanya jelas, tinggal mematuhi,’’ kata dia.

Menurut dia, tidak semua kasus dapat mengedepankan pendekatan restorative justice (keadilan restoratif). Konsep tersebut hanya berlaku untuk pidana tertentu. Bahkan di KUHP, lanjut Aries, konsep tersebut belum sepenuhnya dijadikan pedoman. ‘’Kalau kejahatannya besar, tentu tidak bisa mengedepankan damai,’’ terang alumnus pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya itu.

Seluruh elemen masyarakat merupakan bagian dari penegakan hukum. Semua pihak memiliki tanggungjawab untuk menjaga perlindungan anak di Ponorogo agar berjalan dengan baik. ‘’Untuk bisa mengawal supaya perlindungan anak berjalan dengan baik, biarkan law enforcement (penegak hukum) melaksanakan tugasnya secara lurus dan konsekuen,’’ tegasnya. (naz/mg7/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here