Ratu Sabu-Sabu Termehek-mehek

93
TIDAK JUJUR: Siti Artiyasari, terdakwa kepemilikan sabu-sabu empat kilogram, menangis dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Madiun Rabu (11/9).

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Empat kali Siti Artiyasari, 38, menyeka air matanya dengan tisu. Rabu (11/9) terdakwa perkara kepemilikan narkoba jenis sabu-sabu (SS) empat kilogram itu menjalani sidang ketiga. Siti mewek setelah Bunga Meluni Hapsari, hakim anggota Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Madiun, berulang kali bertanya ihwal pekerjaannya sebagai kurir SS.

Sebelumnya, Siti sempat berkelit kala ditanya Jaksa Penuntut Umum (JPU) Nur Amin dalam sidang mendengarkan keterangan terdakwa tersebut. Terdakwa menampik sudah dua kali menjadi kurir SS. Bahkan, JPU lainnya, Tri Satrio Wahyu, sempat emosional dengan menyebut ketidakjujuran bakal memperberat tuntutan hukuman.

Sebab, dalam berita acara pemeriksaan (BAP), Siti mengaku tidak hanya mengirim SS dari Pekanbaru, Riau, ke Kabupaten Madiun. Perkara yang tengah menimpanya saat ini. Melainkan juga mengirim tiga kilogram SS dalam dua bungkus dari Batam ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan. ‘’Ya, saya dua kali mengirimkan sabu-sabu,’’ kata Siti termehek-mehek.

Awalnya, Nur bertanya kebenaran atas perintah Edmon Gani, narapidana (napi) Lapas Kelas I Madiun, mengambil dan mengirim dua paket SS. Masing-masing 1,5 kilogram di salah satu hotel di Batam. Serta asal-usul uang Rp 15 juta dan Rp 10 juta berdasar printout buku rekening.

Terdakwa tidak menampik perintah tersebut. Namun, paketan yang didatangi bersama Natasya Harsono, 23, terdakwa lainnya, itu tidak pernah dikirimkan. ‘’Karena barangnya sudah tidak ada, dicari tidak ketemu,’’ ujarnya seraya menyebut uang yang diterima hanya Rp 15 juta sebagai ongkos transpor.

Duit yang Rp 10 juta dia tak tahu-menahu. Jawaban itu membuat Satrio mengernyitkan dahi. Selain asal-usul duit Rp 10 juta tidak jelas, Siti masih dipercaya menjalankan tugas selanjutnya ketika tugas pertama gagal. JPU yang juga kasi pidana umum (pidum) Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Madiun itu lantas melontarkan pertanyaan menohok. ‘’Tidak dapat (dikirimkan) atau tidak tertangkap?’’ tanyanya.

Satrio lantas membeber transkrip waktu penerimaan uang dan tugas pengiriman paket SS pertama dan kedua. Rentangnya setengah bulan. Tugas pertama 16 April dan kedua 30 April lalu. Keterangan di BAP dengan keterangan dalam sidang kedua terdakwa pun sangat klop.

Apalagi, Natasya mengakui SS berhasil dikirimkan dari Batam ke Banjarmasin. Siti memberi duit Rp 2 juta sebagai upah keberhasilan itu. ‘’Tapi, saya belum menerima upah untuk tugas kedua karena lebih dulu ditangkap,’’ jelas Natasya kepada Satrio.

Sementara itu, Siti menyebut baru dua bulan mengenal Edmon dari Budi, suami temannya asal Surabaya. Budi juga seorang napi Lapas Kelas I Madiun. Pria itu saling menukar nomor handphone (HP) Edmon dan Siti. Hingga akhirnya Edmon menelepon terdakwa lebih dulu.

Awalnya sekadar kenalan dan berlanjut tawaran kerja menjadi kurir SS. Permintaan itu dituruti karena terdesak kebutuhan ekonomi. Keduanya beberapa kali saling berkomunikasi. Lewat telepon, chatting-an, dan video call WhatsApp pukul 19.00 atau 20.00.

Kepada Sigit Haryo, penasihat hukum (PH)-nya, Siti mengaku bertemu Edmon di lapas lima hari setelah ditangkap petugas Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Timur, 2 Mei lalu. Pertemuan itu difasilitasi petugas lapas setelah permintaan dua hari sebelumnya belum bisa dipenuhi. Siti minta pertanggungjawaban. Namun, Edmon memintanya mengajukan pindah ke Lapas Pamekasan dan akan membantunya di sana. Petugas lapas disebut-sebut melihat pertemuan itu.

Mengapa petugas lapas tidak datang dalam sidang sebagai saksi meringankan? Sigit beralasan saksi sibuk. Pihaknya minta kepada hakim ketua Teguh Harissa menunda agenda tersebut. Permohonan disetujui untuk digelar Rabu mendatang (18/9). ‘’Ya, biasa lah berbelit-belit,’’ katanya kala ditanya kliennya berbohong kepada JPU. (cor/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here