Rasakan Nuansa Belanda di Museum Kereta Api Ambarawa

60

Museum Kereta Api Ambarawa menjadi saksi bisu perjalanan panjang perkeretaapian di tanah air sejak era kolonial Belanda. Jawa Pos Radar Madiun sempat mampir ke lokasi itu saat mengikuti press tour yang diprakarsai PT KAI Daop VII Madiun.

—————–

SETELAH menikmati kemegahan Lawang Sewu, keesokan harinya rombongan press tour diajak ke Museum Kereta Api di Desa Panjang, Ambarawa. Perjalanan ke lokasi sekitar satu jam. Pun, antrean pengunjung di loket siang itu tak terlalu ramai.

Dari pintu masuk, sebuah lorong sejauh 50 meter menyapa pengunjung. Pada dinding sepanjang lorong terpasang banner berisi rentetan peristiwa sejarah perkembangan kereta api di tanah air sejak 1976. Tidak ketinggalan tulisan ‘’INKA Industri Kereta Api Pertama di Asia’’.

‘’Jangan terkecoh ya, lantainya itu replika agar terlihat seperti lantai Stasiun Ambarawa. Mulai ruangan loket sampai lorong sejarah ini adalah bangunan baru,’’ kata Thanti Feliana, senior supervisor Museum Kereta Api Ambarawa.

Di museum ini terdapat koleksi 21 lokomotif kereta uap. Juga tiga kereta diesel yang dioperasikan untuk kebutuhan wisata dan disewakan. Di antara puluhan lokomotif tersebut, beberapa di antaranya merupakan jenis limited edition yang legendaris di dunia. Yakni, lokomotif bernomor B 2502 dan B 2503 buatan Maschinenfabrik Esslingen, Jerman. Juga B 5112 produksi Hannoversche Maschinenbau AG. ‘’Keunikan lainnya jalur rel bergerigi satu dari tiga jalur yang ada di dunia. Selain Indonesia, Swiss, dan India, jalur ini bisa ditemui di sepanjang jalur Ambarawa,’’ paparnya.

Nuansa Negeri Kincir Angin lekat betul pada Stasiun Ambarawa. Terutama di sekitar peron. Ornamen dinding, lantai, jendela, dan pintu terlihat khas Belanda. Termasuk jam dinding berbahan logam yang menggantung di dekat loket.

Yang tidak kalah unik, sejumlah perabotan peninggalan Belanda tertata rapi seolah Stasiun Ambarawa masih beroperasi. Di loket, misalnya, terdapat mesin kuno pencetak tiket. Juga beberapa contoh tiketnya dan kalkulator jadul.

Puas jalan-jalan di halaman peron Stasiun Ambarawa, rombongan bergeser ke sebuah gudang kereta yang disulap menjadi ruang audiovisual. Deretan kursi kereta api kelas eksekutif memberikan kesan berbeda. Pun, di dalamnya terdapat miniatur kereta dan seragam petugas KAI di masa itu.

Stasiun Ambarawa dulunya bernama Stasiun Willem I. Dibangun Belanda pada 21 Mei 1883. Kala itu difungsikan sebagai sarana transportasi untuk benteng pertahanan militer yang berbasis di Jawa Tengah. ‘’Lalu, dimanfaatkan pemerintah Indonesia untuk jalur Jogjakarta-Ambarawa. Sejak 1976 stasiun ini tidak lagi difungsikan,’’ papar Harto Juwono dari tim penelusuran arsip Direktorat Managemen dan IT KAI pusat.

Saat ini, Museum Kereta Api Ambarawa dikelola PT Kereta Api Pariwisata yang merupakan anak perusahaan KAI. Selain museum, dibuka kembali jalur lama yang menawarkan sensasi menaiki kereta api uap dan diesel jadul. ***(dila rahmatika/sd/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here