Qoirul Huda Ingin Hafal Alquran, Ahmad Ansori Dikenal Dermawan

186

Kepergian santri yang tenggelam di Sungai Tempuran menyisakan duka mendalam. Masing-masing korban tergolong pribadi yang tekun dalam mempelajari ilmu agama. Semuanya bahkan tercatat sedang menghafalkan Alquran.

——————-

GIGI Sumirah tanggal. Tak disangka, itu firasat kepergian putranya untuk selama-lamanya. Sehari sebelum peristiwa nahas itu, Sumirah sempat menjenguk Qoirul Huda di pesantren. ‘’Karena ini musibah, kami menerimanya dengan ikhlas,’’ kata Nyadianto, ayah korban.

Begitu mengetahui kabar duka tentang putranya dari majikannya, Nyadianto bergegas pulang ke Ponorogo. Warga Desa Senepo, Slahung, itu bergegas mengemasi barangnya. Dari Jakarta, dia berangkat pukul 02.00 dini hari (15/1) mengendarai travel. Sesampainya di rumah pukul 11.00, tanpa istirahat dia langsung bergegas menuju ke ponpes. Selain ikut doa bersama, dia ingin melihat langsung proses pencarian putranya.

Siang itu, dia duduk di serambi masjid dengan tatapan kosong. Seusai jenazah teman anaknya, Ahmad Ansori, disalatkan. Masih lekat di ingatannya, saat berjumpa putranya sebulan lalu. Anaknya pernah berjanji kepadanya untuk menjadi seorang penghafal Alquran (hafiz). ‘’Begitu dikabari, saya langsung pulang,’’ ujarnya.

Semula,Nyadianto berencana menginap di ponpes sampai putranya ditemukan. Doanya pun terkabul, jasad putranya ditemukan bersama seorang korban lainnya menjelang magrib. Air matanya tumpah seketika. Dia menunggu dengan sabar jasadnya diantar ke ponpes untuk disalatkan. Iringan doa dari para santri terus mengalir saat jenazah putranya tiba di ponpes. ‘’Yang penting ketemu meskipun dalam keadaan apa pun,’’ ungkapnya.

Usai disalatkan, dia menemani perjalanan jenazah anaknya diantarkan ke rumah duka. Prosesi pemakaman dilaksanakan malam itu juga. Dia merantau ke Jakarta bekerja di pemotongan daging ayam demi anaknya. Semuanya dilakukan untuk membiayai sekolah anaknya tersebut. Meskipun demikian, hati besarnya membuatnya sabar menghadapi kenyataan. Dia pasrah menerima kejadian ini sebagai musibah dan takdir yang telah digariskan. ‘’Memang anaknya gak bisa berenang. Kalau di rumah gak pernah mandi di sungai, jauh,’’ tuturnya.

Sementara itu, Jenazah Ahmad Ansori tiba di rumah duka Jalan Poncowolo, Oro-Oro Ombo, Kartoharjo, Kota Madiun, sekitar pukul 14.46. Seusai ditemukan di Sungai Tempuran sekitar pukul 11.00 kemarin (15/1). Jenazah kemudian disalatkan di Masjid Al-Hikmah tepat di seberang rumah duka. Kemudian disemayamkan di pemakaman Oro-Oro Ombo.

Di masjid itulah, almarhum banyak menghabiskan masa kecil hingga remajanya menjadi santri taman pendidikan Alquran (TPA).  ‘’Sampai sekarang, dia masih santri di masjid ini. Dia selalu menyempatkan ke sini setiap pulang,’’ kata Achmad Darodji, guru TPA Al-Hikmah.

Achmad terakhir bertemu Ansori tiga hari sebelum tutup tahun. Persisnya setelah pernikahan kakak almarhum, 28 Januari lalu. Di mata guru ngajinya itu, bungsu dari empat bersaudara itu tergolong pribadi yang supel. Tak heran, almarhum memiliki banyak teman di kampung halamannya. ‘’Banyak yang cocok. Anaknya dermawan.  Punya apa gitu mesti dibagi ke teman-temannya,’’ kenangnya.

Duka mendalam turut dirasakan sejumlah guru almarhum di SDN 03 Klegen. Di sekolah itu, almarhum tercatat sebagai alumni angkatan 2017/2018. Ansori terakhir mendatangi sekolahnya untuk mengambil ijazah, 28 November 2018. Ditemani seorang guru dari ponpesnya di Ponorogo. ‘’Datang dua kali, hari pertama itu nggak sampai ketemu wali kelasnya. Besoknya datang lagi ditemani ayahnya,’’ kata Sri Wahyuningsih, guru SDN 03 Klegen.

Usai mengambil ijazah, Sri sempat duduk mengobrol dengan almarhum di depan Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Almarhum yang lulus SD 4 Juni 2018 lalu itu juga dikenal penurut dan rajin membantu orang tua. Berjualan sate ayam di depan Stadion Wilis. ‘’Katanya, mondok itu menyenangkan, teman-temannya banyak. Begitu lulus, dia sudah bilang ingin mondok di Ponorogo,’’ kenangnya. *** (nur wachid/dila r/fin/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here