Putus Kuliah, Sri Murtini Temukan Jalan Rezeki dari Jasa Jahit

39

MADIUN – Nama Sri Murtini cukup populer di dunia tata busana Madiun. Sudah puluhan tahun perempuan itu mengais rezeki sebagai penjahit. Berkat ketekunannya, pelangganya merambah berbagai daerah.

TANGAN Sri Murtini luwes mendesain busana menggunakan pulpen di depan seorang pelanggannya. Desain itu membentuk gaun dengan rok span yang panjang. Hiasan bunga di bagian pergelangan tangan dan pinggang menambah anggun busana tersebut.

Begitulah kebiasaan Sri ketika menerima order jahitan dari pelanggannya. Sebelum menjahit, klien diajak konsultasi seputar model dan desain yang diinginkan. ‘’Kekurangan tubuhnya disamarkan, kelebihan yang ada ditonjolkan agar perhatiannya orang tidak terfokus di bagian tubuh yang kurang itu,’’ jelasnya.

‘’Kalau ini saya buat untuk salah seorang pelanggan. Model orang gemuk keliatan langsing, disiasati dengan desain, fokus ke center of interest,’’ imbuh Sri seraya menunjukkan beberapa contoh desain busana hasil jahitannya.

Selain mengikuti postur, pakaian yang didesain juga menyesuaikan warna kulit. Jika customer berkulit putih, Sri menyarankan tidak memakai kain dengan warna terang karena akan menimbulkan kesan pucat. ‘’Kalau kulitnya sawo matang dan pengennya pakai warna biru, pilih biru terang telur asin dan bisa dipadupadankan dengan putih tulang,’’ ungkapnya.

Dengan jurus yang sudah dilakoni Sri selama 20 tahun itu banyak konsumen yang puas dan menjadi pelanggan setianya sampai sekarang. ‘’Ada pelanggan saya yang jahitkan bajunya dari zamannya masih gadis sampai sudah nikah dan punya anak. Terus, anaknya juga langganan ke saya,’’ ujar Sri.

Pelanggannya tidak hanya dari Madiun Raya. Melainkan juga luar daerah seperti Jombang, Sidoarjo, Jakarta, Bontang, Samarinda, hingga Palu. Umumnya mereka mengenal produk Sri dari kerabat yang ada di Madiun.

Istri Muhajir ini membuka jasa jahit bermula saat ayahnya meninggal dunia. Sri yang kala itu sedang menempuh pendidikan S1 Tata Busana di IKIP Surabaya (sekarang Unesa) akhirnya memutuskan berhenti kuliah. ‘’Semester V waktu itu,’’ kenangnya.

Berbekal ilmu tata busana yang dia dapatkan selama kuliah, Sri akhirnya membuka jasa jahit di Jalan Tulus Bakti. Namun, dalam praktiknya, tidak semua teori mendesain busana dari bangku kuliah bisa diterapkan.

‘’Misalnya teori jahitan kamisol (pakaian dalam wanita tanpa lengan, Red), itu kalau jahit di bagian kap di teorinya dijahit sekitar tiga centimeter, kenyataanya butuh tambahan tiga centimeter lagi. Kalau nggak, pas dipakai kap di bagian payudaranya itu tidak bisa ngeplek di dada,’’ bebernya.

Sekarang, Sri kerap membagikan ilmunya ke sejumlah pelajar SMK yang magang. Mereka diajari teknik dasar sampai bisa membuat pakaian sendiri dengan pendampingan karyawannya. ***(isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here