Punah Tradisi Tergerus Teknologi

38
SELAMAT IDUL FITRI : Kian berkurangnya penggunaan kartu lebaran justru menjadikan media ini semakin ekslusif.

PONOROGO – Teknologi mendegrasi tradisi berkirim kartu ucapan lebaran. Tradisi berkirim ucapan lewat selembar kartu tak semasif dulu. Dulu, semua kalangan terutama remaja pastilah menyisihkan uang sakunya untuk berkirim kartu kepada sahabat, meskipun rumahnya dekat.

Kepala Kantor Pos Ponorogo Hadi Ernowo menuturkan, tradisi berkirim kartu lebaran tak sepenuhnya mati. Sampai kini, kebiasaan itu masih dilakoni meski tak segeliat beberapa tahun lalu. ‘’Secara angka memang turun drastis. Tapi, tradisi itu masih dilakukan, terlebih di kalangan pebisnis, instansi pemerintahan dan perbankan,’’ tegasnya.

Sejak sepekan jelang lebaran, tak kurang dari 500 kartu dikirimkan per hari. Dibandingkan tahun lalu jumlah itu relatif stagnan. ‘’Jangan dibandingkan lagi dengan masa-masa kejayaan kartu lebaran beberapa tahun silam,’’ lanjutnya.

Menurut Hadi, tradisi berkirim kartu lebaran populer di era 1980-an. Dia masih ingat betul, waktu itu dirinya menerima kartu hingga berkarung-karung. Periode itu berlangsung hingga era 1990-an. ‘’Masih merasakan bagaimana waktu itu mendapatkan kiriman ucapan, dan mengirimkan sebanyak-banyaknya,’’ tuturnya.

Kemerosotan tradisi berkirim kartu lebaran, ditandai dengan masuknya teknologi, terutama handphone. Sejak itu orang beralih berkirim ucapan melalui seluler. ‘’Proses yang cenderung lebih cepat, efisien, dan hemat, itu yang diminati warga,’’ sambungnya.

Dia menilai orang meninggalkan tradisi berkirim kartu ucapan lebaran karena prosesnya yang ribet. Dia menyebut warga harus membeli kartu ucapan di toko. Kemudian menuliskan kata-kata ucapan, lalu memberi perangko. ‘’Itu saja belum langsung diterima oleh orang yang dituju,’’ tukasnya.

Paling tidak, kartu ucapan baru sampai ke alamat tujuan satu hari setelah dikirimkan. Kalah cepat dengan pengiriman via handphone yang langsung tersampaikan setelah dituliskan jemari. ‘’Tinggal pencet langsung sampai dalam hitungan detik,’’ imbuhnya.

Meski demikian, Hadi menilai justru semakin turunnya minat masyarakat membuat tradisi berkirim kartu lebaran semakin eksklusif. Pun, kualitas tulisan orang jaman dahulu berbeda dengan anak jaman sekarang. ‘’Coba lihat bentuk tulisannya, lebih bagus orang jaman dahulu. Secara kaidah kebahasaan juga terjaga dibandingkan dengan anak-anak sekarang,’’ ucapnya. (mg7/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here