Puluhan Warga Watu Bonang yang ‘’Hijrah’’ Pulang Kampung

215

PONOROGO – Puluhan warga Desa Watu Bonang, Badegan, Ponorogo yang diisukan ’’hijrah’’ lantaran doktrin kiamat tiba di rumah masing-masing, Minggu (14/4). Dari total 56 warga, 40 warga pulang dijemput tim khusus bentukan Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni. Sementara 12 warga pulang menggunakan mobil pribadi.

Wajah mereka tampak bahagia saat turun dari tiga minibus. Bertemu dengan sanak keluarga masing-masing. Mereka kembali ke kampung halaman bukan tanpa alasan. Salah satunya, agar dapat menyalurkan hak pilih pada Pemilu 17 April mendatang. ’’Kami pulang agar bisa nyoblos. Karena kami belum mengurus pindah pilih,’’ kata Ahmad Zamrosi, salah satu rombongan.

Ahmad mengungkapkan ada empat warga yang masih berada di ponpes di Kasembon Malang. Keempatnya memilih tidak pulang lantaran telah mengurus pindah pilih. Sehingga keempatnya dapat menyalurkan hak pilih di Malang. ‘’Kami yang pulang ini belum mengurus pindah pilih,’’ lanjutnya.

Selain itu, kepulangan puluhan warga tersebut juga memenuhi permintaan tim khusus dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo. Yakni agar anak-anak yang masih sekolah dapat mengikuti ujian. Dari total sepuluh anak-anak sekolah dasar tiga di antaranya bakal mengikuti ujian. ’’Ada beberapa yang akan ikut ujian, makanya kami pulang dulu,’’ ungkapnya.

Kendati demikian, Ahmad mengungkapkan rombongan bakal kembali ke ponpes. Sebab, agenda rutin ngaji tiga bulanan belum usai. Seperti dijadwalkan mereka mengikuti ujian dari bulan Rajab, Sya’ban, Ramadhan di Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Falahil Mubtadiin, Kasembon, Malang. ’’Tetap kembali ke sana karena belum selesai ini ngajinya,’’ sambungnya.

Terkait waktu kembalinya rombongan ke Malang, dia belum dapat memastikan. Hanya saja, dia mengatakan kembali ke sana tidak rombongan seperti saat ini. Bisa jadi usai nyoblos, mereka kembali sendiri-sendiri ke Malang. ‘’Kalau anaknya ada yang ujian menunggu dulu agar selesai ujiannya,’’ tuturnya.

Ditanya alasan mereka hijrah ke Malang, dia menegaskan tidak ada doktrin kiamat seperti yang santer diberitakan. Dia bersama warga lainnya menjalani rutinitas layaknya santri di ponpes. Ibadah, ngaji kitab, dan menerapkan amalan yang diberikan kiai. ’’Tidak ada yang macam-macam. Kami mengaji biasa di sana,’’ imbuhnya.

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Ponorogo Sumani yang menyambut kedatangan rombongan mengatakan kepulangan rombongan difasilitasi pemerintah. Agar warga tersebut dapat menyalurkan hak pilih. Pun bagi anak-anak yang akan menghadapi ujian dapat ikut ujian. ‘’Ini hasil dari pertemuan tim khusus yang diketuai Pak Wabup di ponpes tersebut,’’ kata Sumani.

Dia menambahkan secara resmi pihak ponpes juga telah memberitahukan kepulangan tersebut melalui surat resmi. Pihaknya belum dapat memastikan kapan mereka bakal kembali ke ponpes kembali. ‘’Sudah kami tanya, dan dipastikan mereka akan kembali lagi menyelesaikan agenda ngaji di pesantren,’’ lanjutnya.

Pihaknya berharap kepulangan warga tersebut dapat meredam isu doktrin kiamat yang beredar. Pun mereka tidak melakukan aktivitas yang menyimpang di ponpes tersebut. Pihaknya juga mengimbau agar seluruh awak media tidak membesar-besarkan hal tersebut. ‘’Alhamdulillah seluruh rombongan sampai dengan selamat,’’ ucapnya. (mg7/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here