Puluhan Titik di Jalur Pacitan-Ponorogo Sepanjang 44 Km Longsor

194

PACITAN – Bayang-bayang bencana besar akhir 2017 di Pacitan datang lagi. Longsor dan banjir tidak hanya merusak permukiman warga namun juga infrastruktur. Puluhan titik di jalur Pacitan-Ponorogo sepanjang 44 kilometer longsor. Bahkan, menutup akses antarkabupaten itu. ‘’Sepanjang jalan banyak yang longsor, bahkan longsorannya sampai menutup separo jalan,’’ kata Johan, salah seorang pengguna jalan tersebut, kemarin (7/3).

Johan mengungkapkan, meski sebagian material longsor telah dibersihkan, namun timbunan lumpur sisa longsoran membahayakan. Pasalnya, licin saat dilalui. Sebagian tepat berada di tikungan hingga membahayakan saat berkelok. Di beberapa titik, gunturan batu sebesar bola masih berserakan di pinggir jalan. ‘’Kalau malam pasti bahaya, karena di jalur ini sangat gelap,’’ ujar pria yang kerap bolak-balik Slahung (Ponorogo)-Arjosari (Pacitan) itu.

Tak hanya material longsor, derasnya aliran Sungai Grindulu juga membuat tebing jalan di jalur Pacitan-Ponorogo terkikis. Erosi terjadi di beberapa titik. Terparah, di desa Ngreco, Tegalombo, dan Bolosingo, Pacitan. Di dua titik tersebut membuat warga setempat memasang tong dan garis kuning agar dihindari pengendara. ‘’Di sini parah, seluruh tepian jalan hilang,’’ jelas Harun, warga Dayakan, Bolosingo, Pacitan.

Harun mengungkapkan, tebing jalan di seberang rumahnya tergerus sekitar pukul 22.00 Rabu (6/3). Saat itu, air Sungai Grindulu hampir menyentuh permukaan jalan. Tak berselang lama, dia mendengar suara gemuruh di tepi sungai. Warga pun langsung mengerubuti tebing sungai sepanjang 20 meter yang ambrol itu. ‘’Warga berinisiatif menutup separo jalan dan melakukan sistem buka tutup,’’ terangnya.

Meski kemarin siang air sungai surut, namun dia khawatir gerusan aliran sungai bakal terus terjadi. Hingga erosi bakal memakan bahu jalan. Aliran Sungai Grindulu yang merangsek ke sisi jalur kian memperparah akses tersebut. ‘’Takutnya kalau tanah di bawah aspal itu tergerus, karena sungai ini semakin berbelok,’’ waswasnya.

Kondisi tak jauh beda juga terjadi di Desa Ngreco, Tegalombo. Tepian sungai jalur Pacitan-Ponorogo sepanjang 20 meter ambrol tak kuat menahan derasnya aliran Sungai Grindulu. Erosi membuat sebagian badan jalan hancur. Pita kuning dan tong juga dipasang di tepi jalan. (mg6/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here