Ngawi

Puluhan Tahun Wiyono Jual Jasa Perahu Penyeberangan

Pelanggan Didominasi Pedagang, Penumpang Bayar Seikhlasnya

Jasa perahu penyeberangan masih dibutuhkan sebagian warga Ngawi. Terutama yang tinggal di sekitar aliran Bengawan Solo. Pun, rupiah masih mengalir ke kantong Wiyono dari jasa itu, meski tidak sebanyak beberapa dekade lalu.

==========================

SUGENG DWI, Ngawi, Radar Ngawi

DI bawah terik matahari siang itu, Wiyono tampak menguras genangan air yang memenuhi bagian lambung perahu kayu miliknya. Setelah air dikuras, dia lantas duduk di ujung perahu warna biru yang catnya mulai mengelupas itu sembari menggenggam sebatang galah. ‘’Warga sini biasa menyebut tembongan,’’ kata penyedia jasa perahu penyeberangan itu.

Wiyono menekuni jasa perahu penyeberangan di Dusun/Desa/Kecamatan Ngawi sejak 1982 silam. Awalnya dia sekadar dipercaya dinas pekerjaan umum dan perumahan rakyat (PUPR) untuk menjaganya.

Beberapa tahun berselang, perahu kayu tersebut dihibahkan ke desa dan digunakan Wiyono untuk mengais rezeki. ‘’Dulu mungkin karena kurang banyak orang yang pakai jasa ini, perahu lantas dihibahkan ke desa untuk digunakan mandiri,’’ ujarnya.

Lebih dari 37 tahun mendayung perahu, Wiyono merasakan pasang surut usahanya. Dulu sebelum kendaraan bermotor marak, dalam sehari yang menggunakan jasa perahunya bisa mencapai ratusan. Mulai pelajar hingga warga yang hendak ke Pasar Besar Ngawi. ‘’Tapi sekarang sudah jarang, anak sekolah kebanyakan pakai motor,’’ ungkapnya.

Kini, dalam sehari paling banyak hanya 20 orang yang naik perahu milik pria 64 tahun itu. Mayoritas pedagang ayam dan penjual tempe yang hendak ke Pasar Besar Ngawi. Wiyono tidak mematok tarif kepada para pelanggannya. Melainkan dibayar seikhlasnya.

‘’Ada yang kasih Rp 1.500, ada yang Rp 4.000,’’ sebutnya. Kantong Wiyono sedikit menebal ketika bulan Agustus bersamaan maraknya momen karnaval tujuh belasan. ‘’Biasanya penumpang lebih ramai,’’ imbuhnya.

Pada musim kemarau seperti sekarang, pendapatan Wiyono juga berkurang. Sebab, surutnya air bengawan membuat sebagian pelanggannya memilih nekat nyemplung sungai untuk menyeberang. ‘’Kalau sampai kering memang belum pernah, tapi kali ini surutnya paling drastis,’’ kata bapak tiga anak itu.

Meski usianya sudah terbilang senja, Wiyono belum berpikir berhenti sebagai tukang perahu. ‘’Mungkin kalau sudah dibangun jembatan, saya baru pensiun,’’ ujarnya. *** (isd/c1)

Wacanakan Asuransi bagi Pengunjung

ANDALAN: Objek wisata Embung Kuniran masih menjadi jujukan warga untuk menghabiskan liburan.

CUACA ekstrem yang melanda Ngawi beberapa pekan terakhir diklaim tak berdampak pada angka kunjungan wisata alam daerah setempat. ‘’Pengunjung biasanya kan datang pagi sampai siang. Sementara, hujan dan angin kencang kerap terjadi pada sore hari,’’ kata Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Ngawi Raden Rudi Sulisdiana Selasa (19/11).

Meski begitu, pihaknya telah melakukan beberapa antisipasi segala kemungkinan buruk. Terutama tanah longsor. Salah satunya menyebar imbauan kepada para pengelola objek wisata alam agar mewaspadai potensi terjadinya bencana tersebut.

Tak hanya itu, dalam waktu dekat pihaknya bakal memanggil para pengusaha wisata maupun penyedia jasa wahana permainan di tempat pelesiran agar mengansuransikan pengunjung dan konsumen. ‘’Kami surati dulu,’’ ujar Rudi.

Dia menambahkan, meski bakal berdampak pada kenaikan tiket masuk, setidaknya upaya itu patut ditindaklanjuti. Terlebih saat ini kondisi cuaca sulit diprediksi. ‘’Dengan adanya asuransi mudah-mudahan tiket tidak sampai kelewat mahal,’’ harapnya.

Melihat manfaatnya, Rudi meyakini kalapun ada kenaikan tiket masuk objek wisata, tidak akan memberatkan pengunjung maupun memengaruhi tingkat kunjungan. ‘’Kalau hanya naik Rp 1.000 sampai Rp 2.000 saya pikir tidak masalah,’’ ucapnya.

Di sisi lain, dia berharap para pengelola objek wisata maupun penduduk sekitar jeli membaca tanda-tanda alam. Termasuk kalangan paguyuban wisata. ‘’Seperti di Seloondo, sudah ada paguyuban wisatanya,’’ pungkasnya. (gen/c1/isd)

Belum Terbebas dari Krisis Air Bersih

AIR MASIH SULIT: Beberapa truk tangki mengisi air bersih sebelum dikirim ke wilayah terdampak kekeringan.

HUJAN yang mengguyur wilayah Ngawi beberapa pekan terakhir tidak serta merta membebaskan sebagian warga dari krisis air bersih. Di Dusun Nempel, Kerek, Ngawi, misalnya, hujan belum mampu memulihkan cadangan air sumur-sumur warga setempat.

Endang, salah seorang warga, menyebut bahwa sumur-sumur masih mengering. Apalagi, sepekan terakhir tidak turun hujan. ‘’Air masih sulit. Masih mengandalkan kiriman (bantuan air bersih),’’ kata Endang kemarin (19/11).

Kasi Kedaruratan BPBD Ngawi Alfian Wihaji Sudono mengamini hujan yang sempat turun tidak berpengaruh pada kondisi kekeringan. Bahkan, intensitas permintaan air bersih cenderung meningkat. Jika pada Oktober lalu berkisar lima hingga tujuh tangki sehari, kali ini pihaknya mendistribusikan enam sampai delapan tangki air bersih. ‘’Sumber-sumber belum terisi,’’ katanya.

Dia memprediksi kekeringan masih akan berlangsung hingga akhir bulan ini. Namun, karakteristik tanah di Ngawi yang keras dan sulit menyerap air, diperkirakan baru pada Desember kondisi sumber-sumber normal kembali. ‘’Kalau sekarang tanah digali 30 meter masih kering,’’ ujarnya.

Alfian menyebut, akhir musim kemarau diperkirakan terjadi bersamaan kembali meningginya debit air Bengawan Solo. Pasalnya, aliran kali terpanjang di Pulau Jawa tersebut merupakan penyokong utama kebutuhan air di Bumi Orek-Orek. ‘’Kalau tinggi muka air bengawan mencapai 12 meter, kekeringan sudah selesai,’’ tuturnya.

Saat ini sedikitnya 48 desa di 11 kecamatan mengalami krisis air bersih. ‘’Angkanya terus bertambah. Beberapa desa yang semula aman, belakangan terdampak kekeringan juga,’’ pungkasnya. (gen/c1/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close