Puluhan Tahun Ajarkan Baca Tulis Alquran tanpa Imbalan

217

MAGETAN – Seperti ilmu padi, kian berisi kian merunduk. Ya, demikian pribahasa yang sering diungkapkan untuk menggambarkan seseorang yang makin tinggi ilmunya, makin banyak pengetahuannya. Hal itu tergambar dari sosok KH. Hamid. Dia merupakan imam besar masjid At-Taqwa yang sudah separo hidupnya dipakai untuk syiar agama.

Tubuhnya sudah renta. Usianya juga telah menua. Itu terlihat dari wajah yang sudah berkeriput. Tapi, KH Hamid bukan sembarang orang. Dia dikenal oleh masyarakat sebagai imam besar Masjid At-Taqwa.

Hamid mengaku merupakan generasi keempat penerus jejak keluarga sebagai imam. Di usianya sekarang yang sudah menginjak 73 tahun, Hamid coba menyakinkan diri untuk terus menyebarkan ilmu agama yang dikuasainya ke banyak orang. ‘’Karena ini semua amanah dari orang tua saya dulu,‘’ kata Hamid.

Diakuinya, peran sebagai imam besar masjid memang berat. Karena tantangan yang dihadapi berat. Terlebih banyak jamaah yang harus dibimbing. ‘’Yang pasti berat, tapi semua saya jalani dengan ikhlas,’’ ungkap anak dari KH Imam Muhni itu.

Selain menjadi imam, kegiatan lain yang dilakoni Hamid selama Ramadan dan hari biasanya adalah mengajar ilmu agama kepada sekitar 100 santrinya. Pembelajaran itu dilakukan di kawasan masjid yan didirikan sejak tahun 1840 tersebut. ‘’Jadi, setiap sore kita ada kuliah tujuh menit (kultum) dan membaca ayat suci Alquran yang sudah bertahun tahun umurnya,’’ terang bapak tiga anak itu.

Dalam memberikan pelajaran ilmu agama itu, Hamid tidak pernah menuntut atau menerima imbalan dari santrinya. Semua dilakukannya dengan senang hati. Itu sekaligus menjalankan amanah yang diberikan oleh orang tuanya. ‘’Hanya berharap pahala dan berkah dari Allah SWT,’’ tuturnya.

Ada sejumlah hal yang diajarkan Hamid kepada santrinya. Selain baca tulis Alquran, dia selalu menekankan pentingnya menjaga kerukunan umat beragama. ‘’Kalau ajaran sesepuh saya dulu, Islam itu agama yang bisa di katakan sempurna. Jadi, jangan sampai di kotori dengan hal-hal yang tidak penting,’’ pungkasnya. ***(septian reska/her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here