Pulang Selepas Subuh, Titipkan Anak ke Tetangga

74

MADIUN – Pejuang-pejuang pemilu layak disematkan bagi semua penyelenggara pemilu 2019. Pesta demokrasi lima tahunan di negeri ini secara umum berjalan lancar. Terima kasih pula kepada pihak TNI dan Polri yang all-out mengamankan dari Sabang sampai Merauke.

Paling mencuri perhatian tentu kinerja dari semua kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS). Pada hari H coblosan, nyaris seharian mereka merampungkan pekerjaan. Berangkat pukul 06.00, pulang sudah subuh. Bahkan, ada yang merampungkan tugas di tempat pemungutan suara (TPS) sampai pukul 06.00! ’’Kalau KPPS kami, subuh rata-rata baru pulang ke rumah,’’ ujar Annas Budi Utomo, ketua KPPS 13 Kelurahan Mojorejo, Taman, Kota Madiun.

Annas adalah satu dari ribuan anggota KPPS di Kota Karismatik. Jumlah total mencapai 4.200 orang. Annas mengaku, sudah behari-hari mereka menyempatkan waktu disela pekerjaa untuk mempersiapkan diri bertugas. ‘’Kami punya waktu hanya sekitar dua minggu. Tapi sebelum itu kita sudah sering rapat,’’ ujarnya.

Annas menambahkan, dari 7 KPPS di TPS 13, hanya satu yang sudah berpengalaman. Sedangkan enam lainnya belum pernah menjadi KPPS. Menurutnya itu jadi tantangan. Sebelum hari H coblosan, semua KPPS mendapat bimbingan teknis (bimtek) dari KPU setempat. ’’Saya pertama jadi KPPS ditunjuk menjadi ketua, ya kaget tapi ini tantangan,’’ ujarnya.

Selain bimtek, ada pula ’’sinau bareng’’ untuk seluruh KPPS di wilayah Mojorejo yang difasilitasi pihak kelurahan. Itu untuk mengantisipasi kesalahan dalam tahapan pelaksanaan pemilu. Annas dan anggota KPPS di TPS 13 semakin sibuk ketika hari H coblosan. Dia dan semua anggota sudah standby setelah subuh. Memastikan sebuah perlengkapan administrasi sudah lengkap. ’’Waktu bangun terop juga dibantu banyak warga, kami gotong royong,’’ ujarnya.

Usai pemilih mencoblos, sampailah pada tahapan penghitungan suara. Dimulai dari surat suara presiden, setiap lembar surat suara dibuka dan dihitung perolehannya. Hari semakin larut. Proses penghitungan juga belum tuntas. Sebab, kata dia, selain pilpres, juga ada pemilu legislatif (pileg) DPR RI, DPRD Jawa Timur, DPRD Kota Madiun, dan DPD. Makanan dan minuman ringan dipersiapkan secara sukarela dari masyarakat dengan KPPS. ’’Gorengan dan kopi nggak tahu sampai habis berapa teko itu disediakan, semua sukarela warga dan anggota KPPS,’’paparnya.

Annas menjelaskan, tahapan penghitungan surat suara dimulai dari siang sekitar pukul 14.00. Berikut tahapannya selesai sebenarnya sampai pukul 23.00. ’’Bayangkan saja,  capres itu saja 200-an lembar surat suara bisa satu jam lebih, apalagi ini lima surat suara,’’ paparnya.

Tidak cukup sampai pukul 23.00. Sebab, tugasnya masih berlanjut mengirim berkas laporan ke kantor Kelurahan Mojorejo.  Permasalahan muncul, di Kelurahan Mojorejo dirinya berjibaku mengurus salinan form C1 yang ternyata masih kurang. ’’Subuh baru pulang ke rumah. Itupun di kantor kelurahan baru 15 berkas yang sudah mengumpulkan. Jadi, memang menguras tenaga, pikiran dan waktu, karena ini pertama kalinya pileg dan pilpres digabung,’’ jelasnya.

Lain cerita yang dirasakan Yulinda Sutarningwati. Ibu rumah tangga ini juga kali pertama menjadi KPPS. Dia kebagian tugas di TPS Perumahan Bumi Mas. Di hari H pemungutan suara,  perempuan 34 tahun ini terpaksa menitipkan buah hatinya yang berusia 1 tahun 2  bulan.  ’’Iya saya titipkan dari jam 06.30, jam 12.00 siang saya pulang sebentar nyoblos kan. Nggak lama balik lagi (TPS, Red). Pulang lagi ke rumah setelah subuh,’’paparnya.

Selama sehari itu Shane Rafisqi Djuanedi, anak Linda  dititipkan ke Damiran, tetangganya. Beruntung, selama ditinggal Shane tidak terlalu rewel karena cukup dekat dengan tetangganya itu. ‘’Capek pasti. Tapi anggap  saja menjalankan tugas negara,’’ pungkasnya. (dil/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here